Twitter Saya Mati

Capture
sedih…

Wah, jaman twitter emang mengesankan ya. Dulu saya sering bales-balesan mention sama pacar saya di twitter. Dulu dia juga pernah bilang:

”Aku nulis nama kamu di bio ya?”

”Ya terserah, aku sih nggak mau nulis nama kamu,” jawabku.

Iya meski cukup cerewet dan alay di jamannya, saya nggak mau nulis nama orang di bio. Soalnya, dulu sama Rizan, mantan saya, saya pernah nulis ”debra” di bio. Sementara Rizan menulis ”ian”. Siapa Debra dan Ian?

Kalau kata Rizan, mereka berdua itu sepasang kekasih yang berhasil bikin Debian (akronim dari debra dan ian). Debian itu kayak salah satu jenis linux. Linux itu apa? Halah, mboh, browsingo dewe.

Ya pokoknya, twitter itu banyak kenangannya gitu. Seinget saya, jumlah tweet saya hampir 30ribu lebih saat itu.

Tapi…

Beberapa saat lalu teman saya kantor iseng mencari tahu tentang Rizan di tweet saya. Dia mau tahu gimana drama saya dulu. Saking malunya dan takut ketahuan, saya deactive twitter saya. Beberapa saat lalu, saya mau aktifin lagi, eh nggak bisa dong. Saya coba ‘Forgot Password’ dan memasukkan username lama saya, katanya username tersebut nggak terdaftar.

Oke saya sedih, akun twitter saya, tweet-tweet nggak penting saya, tweet yang saya favoritkan, semuanya hilang.

Terus akhirnya saya bikin lagi deh akun twitter dengan username yang sama. Sedih, nggak punya followers. Hehehe, sedihnya sih gara-gara kenangannya jadi hilang. Tapi nggak papa deh, jejak saya sama Rizan jadi kehapus. Kecuali kamu mau buka twitternya Rizan, ya lain ceritanya kalau gitu.

Emang post ini nggak penting sih. Saya harusnya mengerjakan tugas akhir. Tapi, asli, saya males hari ini. Ya udah. Dadah, siapapun kamu yang terlalu nganggur sampai baca post ini.

Advertisements
Twitter Saya Mati

Mumblecore Story: Marriage

THE WATCHLEAST
Foto: THE WATCHLEAST

‘’Ya, prinsipku tetap gitu sih Bil,’’

Kepulan asap rokok langsung mengikuti ucapannya, bukan menjadi penutup perbincangan. Justru –sepertinya– memancing perdebatan lebih lanjut.

Saya menghela nafas sebentar sebelum menjawab:

‘’Saya udah tahu prinsip kamu sejak kamu masih di dalam kandungan,’’ jawab saya, udah terlalu malas untuk berdebat.

Gia menjentikkan rokoknya ke asbak. Kalau saja dia bukan sahabat saya, saya bakal pura-pura batuk supaya dia menyingkirkan batang mematikan tersebut.

‘’Udah deh Bil, kalau kamu ditanyain pertanyaan itu lagi, kamu jawab aja ‘’nunggu Gia ngelamar’’, tapi aku ngelamarnya nanti. Nanti kalau udah bisa belikan kamu rumah,’’

‘’Dan gincu,’’ lanjutnya.

Saya cuma bisa diam. Seperti biasanya, Gia adalah dominator dalam setiap pembicaraan. Nggak heran, Gia sering memanggil saya ‘submission’.

Saya tahu dia hanya bercanda.

Merasa tenggorokannya kering terkena asap, Gia mengecek isi cangkirnya. Kosong. Tanpa ijin, tangannya meraih botol air kemasan saya.

Saya nggak akan minum dari botol itu lagi. Bau rokok.

Gia berdiri dan berjalan ke arah kasir. Dia kembali dengan sebotol air mineral lain. Saya tahu air itu untuk saya.

Saya dan Gia bukan pecinta romantisme. Tidak ada kasus friendzone, adik-kakak zone, atau zone-zone apalah itu dalam kamus kami. Kalau saya suka Gia, saya sudah bilang sejak dulu. Kalau saya suka Gia, saya nggak bakal bisa tidur tenang setelah Gia mencium bibir saya di mobil waktu itu. Gia bilang, bibir saya hampir sama kayak rokok yang dikonsumsinya sehari-hari. Sederhananya, hambar.

‘’Tapi nagih loh, ya kayak rokok gitu,’’ ujarnya kala itu. Nggak ada satupun dari kami yang salah tingkah.

Gia adalah sahabat. Bukan kakak, bukan adik, bukan hal-hal romantis lainnya yang membuat kami lebih dari seorang sahabat.

Larut dalam pikiran, saya hampir nggak sadar saat pesanan roti bakar datang ke meja kami. Gia yang memesannya saat membelikanku air mineral tadi.

‘’Saya nggak bisa tidur, Gi. Saya kayak dicemplungin ke kolam kecemasan,’’

Gia tertawa, ‘’Apa sih? Sok bermajas gitu bahasa kamu,’’. Ada jeda sejenak sebelum Gia melanjutkan ucapannya:

‘’Gini Bil. Kamu pingin nikah muda nggak?,’’ tanyanya.

‘’Saya udah 22. Udah nggak muda lagi,’’

Gia sama sekali nggak terlihat kesal. ‘’Harus banget nikahnya sama Kala?’’ tanyanya, seolah jawaban saya sebelumnya nggak memberikan efek apapun terhadap percakapan ini.

Saya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

‘’Kalau nggak harus sama Kala, aku bisa kenalkan kamu ke temen-temenku. Ini bukan penawaran pertama loh Bil,’’

‘’Teman kamu merokok semua,’’

Gia tetap nggak kesal. Dia tahu saya sekeras batu, maka dia akan selalu jadi air.

‘’Bil, boleh jujur nggak nih?’’

Saya diam, nggak menjawab.

‘’Kalau dibilang cantik, kamu tuh sebenernya biasa aja loh. Ya sekitar 6 dari 10 lah. Padahal temen-temen yang mau aku kenalin ke kamu tuh banyak yang 9 dari 10 loh,’’ ujarnya, sambil lagi-lagi meniupkan kepulan asap rokok yang dihisapnya.

‘’Saya tahu, Gi,’’, ‘’Saya masih yakin Kala bakal ngelamar saya tahun ini,’’ lanjut saya, nggak mempedulikan ejekan halus yang baru saja dilontarkannya.

‘’Kalau yakin, ya jawab aja pertanyaan pakde-budemu itu, ‘’Iya pakde, bude, saya yakin dilamar tahun ini. Sebelum tahun baru, insha Allah udah menikah’’. Beres kan?’’

Saya terdiam. Diamnya saya selalu menjadi kesempatan untuk Gia menjadi dominator.

‘’Bil, Kala itu nggak pengangguran loh. Dia kerja buat kamu. Ya meskipun belum bisa bikin kamu jadi mama sosialita sekarang. Paling enggak, Kala tuh udah usaha,’’

‘’Gini deh Bil. Kala bahkan bisa seberani itu nunjukkin jumlah tabungan yang udah dia kumpulin buat nikahin kamu. Bandingin deh sama aku. Raya udah berapa kali tuh ngode-ngode minta aku nikahin. Saking sebalnya, aku sampai….’’

‘’Ya itu kamunya aja sih Gi yang keterlaluan,’’

‘’Keterlaluan gimana? Raya kayak kamu sih. Nggak mikir besok kalau udah nikah, anaknya nggak cuma butuh makan, tapi juga fasilitas yang menjamin. Biar mereka bisa kuliah sampai S3, nggak kayak kita, lulus S1 aja pakai keringat sendiri,’’ jawab Gia panjang lebar, nadanya mulai terdengar kesal.

‘’Gi, rejeki kan nggak ada yang tahu,?’’

‘’Lah justru itu, kamu mau gambling?’’

Saya terdiam.

‘’Aku nggak nyalahin prinsipmu Bil,’’ nada Gia merendah. Tangannya mengambil sepotong roti bakar dan mulai mengunyahnya.

‘’Bil, aku bakal senang kok kalau Kala beneran ngelamar kamu tahun ini,’’ roti bakar di mulutnya udah habis dan itu artinya Gia bakal menghabiskan menit-menit berikutnya untuk menceramahiku.

‘’Meski nggak kenal Kala, aku yakin dia orang yang baik. Bukan buat kamu aja, tapi buat lingkunganmu juga. Kalau kamu mau nunggu dia, aku yakin penantianmu bakal dibayar sama Kala. Tapi kalau emang kamu keburu buat menjawab pertanyaan pakde budemu yang anggota pro nikah muda itu, ya silahkan. Silahkan mencari sekenanya yang mau kamu ajak nikah cepat. Tapi jangan bodoh…’’

‘’Jangan bodoh. Sekenanya seorang laki-laki, paling enggak dia punya dua hal buat kamu. Rasa sayang dan tanggung jawab,’’ lanjut Gia membuat saya tertegun dan mulai meminum air kemasan yang baru dibelinya.

Ada hening cukup lama setelah Gia memberikan petuah panjang lebar. Gia mulai memainkan ponselnya. Mungkin membalas chat Raya.

Gia sudah putus lama dengan Raya. Raya akhirnya menikahi laki-laki yang berani melamarnya tanpa pacaran. Saya dan Gia datang ke pernikahan mereka berdua. Saya tahu Gia sempat terbesit untuk memeluk Raya dan menumpahkan rasa rindunya. Tapi Gia justru melontarkan candaan ke suami Raya dan membuat mereka terlihat seperti teman lama.

‘’Bil, Raya hamil,’’ ujar Gia dengan nada super santai seolah-olah mengabarkan kalau kucing kesayangannya lagi-lagi bunting oleh jantan yang nggak dikenal.

‘’Nggak sama kamu kan?’’

‘’Nggak, kita pasti main aman kok,’’ ujarnya lantas tertawa. Saya tahu dia nggak bercanda.

Batang terakhir dari pack rokok Gia udah abis. Artinya, udah tiga pack yang dia habiskan hari ini. Sejak tahun lalu, Gia mulai membatasi kebiasaan merokoknya. Iya, tiga pack itu batasannya.

‘’Bil, Kala nggak kayak Raya kok,’’

‘’Ya emang enggak,’’

‘’Nggak kayak aku juga kan Bil?’’

‘’Maksud kamu, ngehamilin istri orang?’’

‘’Aku nggak ngehamilin Raya, Bil,’’ jawabnya setengah serius.

‘’Iya aku tahu maksud kamu. Kala emang orang baik. Saya hanya……. hanya terlalu ‘haus’,’’

Gia tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak roti bakar yang dimakannya. Sedikit banyak, saya emang nggak bercanda. Sedikit banyak, itu juga yang jadi alasan saya punya prinsip berbeda dengan Gia.

‘’Kalau cuma ‘haus’, sama aku juga bisa Bil,’’ jawabnya sambil cengengesan.

Gia, Bahagia Semesta nama panjangnya, sahabatku sejak semester satu di bangku kuliah. Kalau disuruh memilih Kala atau Gia, saya akan memilih Kala. Pun begitu dengan Gia kalau dia masih bersama Raya saat ini. Kami berdua bukan prioritas untuk satu sama lain. Tapi kapanpun salah satu dari kami membutuhkan teman cerita dan lainnya tidak sedang menjalin kasih, maka akan ada secangkir kopi, sebotol air mineral dan sepiring roti bakar untuk berkeluh kesah.

Sisa malam itu kami habiskan sambil membicarakan tentang seorang gubernur yang harus dipenjara karena perkara politik. Perdebatan dengan Gia emang nggak akan mengeluarkan pemenang. Tidak juga solusi. Perdebatan dengan Gia hanya akan mengosongkan cemas untuk hari ini. Iya hari ini saja. Lalu besok, kalau masih cemas, Saya akan menghubungi Gia lagi.

 

 

 

Catatan:

-In case teman-teman saya menemukan tulisan ini, please no hard feeling. Sebab, nama dan latar cerita hanya fiksi.

-Mumbelcore story bakal jadi genre baru di fiksi saya dimana ada banyak percakapan dan minim penjelasan. (Ini juga kalau saya konsisten nulis genre ini. Hehehe)

Mumblecore Story: Marriage

pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)

ahok

wah, akhirnya saya menulis tentang topik yang paling saya hindari – politik. nah, sebelum kamu ‘nggetu’ baca tulisan ini, saya jelaskan dulu kalau saya nggak punya ilmu politik. ilmu agama saya juga masih cetek. nggak punya ilmunya kok berani nulis? ya maap sob, toh di timeline kamu udah banyak yang kayak gini. so, chill and (try to) enjoy…

pertama, saya mau tekankan, kalau saya bukan warga jakarta. saya juga bukan fan atau hater ahok. jadi netral nih? hm, nggak tau juga sih, baca dulu deh…

kedua, kalau saya warga jakarta, saya juga nggak bakal pilih ahok. iya, saya juga nggak akan pilih anies. saya golput, sama seperti pemilihan presiden sebelumnya. bukan karena saya nggak paham program-program mereka, bukan juga karena saya skeptis sama kinerjanya, saya cuma takut menanggung dosa kalau seandainya pilihan saya nggak bisa tanggung jawab dengan janji-janjinya.

well, poin di atas mungkin bisa diserang dengan ideologi pemuda jaman sekarang yang mengatakan ”gimana mau ngerubah indonesia kalau warganya memutuskan golput dan nggak menunjuk pemimpin yang tepat?”. siapa yang mau merubah indonesia? terus, siapa pemimpin yang tepat? oh my dear, we don’t know yet.

so, balik lagi. baru-baru ini, ahok, gubernur jakarta (atau sekarang mantan gubernur jakarta) mendapatkan banyak sorotan. nggak main-main, berbagai media asing turut meramaikan profil satu ini. pertama, beliau yang saat jadi gubernur dikenal dengan pribadi yang keras namun kerja bersih, mencalonkan jadi calon gubernur jakarta periode berikutnya. sayangnya, secara mengejutkan, beliau kalah dan meninggalkan berjuta-juta kesedihan di dunia maya maupun nyata. kedua, yang terbaru, proses hukum yang menjeratnya atas nama agama, ‘berhasil’ menjatuhkannya hukuman selama dua tahun penjara.

cool.

kalau saya jadi ahok sih saya udah nangis. tapi ini ahok, saya yakin hati dan mentalnya sudah ditempa beribu baja hingga bisa sekuat sekarang.

jadi ini pendapat saya….

tanpa menghapuskan kenyataan bahwa saya warga sipil dan beragama islam, saya berusaha menyampaikan apa yang ada di pikiran saya. sedikit banyak, pendapat ini udah saya utarakan ke pacar saya saat makan di restoran cepat saji.

sebagai umat islam, iya saya menjunjung tinggi al-quran beserta isi dan terjemahannya. meskipun masih ada perdebatan tentang makna ‘awliya’ pada surat al maidah ayat 51, saya tetap nggak akan memilih pemimpin non muslim. alasan yang sama mungkin juga mendasari beberapa dari 57 persen lebih warga jakarta yang nggak memilih ahok.

”i choose A because i don’t like B”

yap, pretty much like that. btw, ini opini saya aja loh. ya menurut saya -yang bukan pakar politik-, beberapa yang milih anies didasari karena dia nggak suka ahok. as simple as that. nggak maksud suudzon sama yang milih anies juga sih.

oke lanjut. nah kalau saya sendiri gimana? seperti yang udah saya katakan sebelumnya, saya nggak bakal milih keduanya. saya tahu ahok kerjanya bagus, tapi beliau bertentangan dengan ajaran agama saya. sementara anies? insha allah, saya emang kurang tahu track record beliau kecuali menjadi korban dari reshuffle kabinet jokowi.

itu salah satu alasan kenapa saya nggak milih ahok (dan juga anies), tentunya selain alasan kalau saya bukan warga jakarta sih. hehehe. sekarang lanjut ke masalah yang menyeret ahok hingga timbul olokan ”salam dua tahun” tersebut.

sebagai muslim, saya tersinggung mendengar ahok membicarakan salah satu surat di al-quran seperti itu. saya udah dengar kok versi fullnya. kalau kamu masih bilang “makan sendok” dan “makan pakai sendok” itu beda, mungkin pendapat kita yang bertentangan. ahok nggak bilang “makan pakai sendok”. bukan seperti itu menganalogikannya. yang jelas, menurut saya beliau salah karena mengatakan kalau ada ‘lawan politiknya’ yang menjadikan surat ini sebagai senjata untuk menyerangnya. terlepas, ada kemungkinan, apa yang dikatakannya benar. tapi cara mengungkapkannya tetap salah.

sekali lagi, itu pendapat saya loh ya.

yang jadi masalah adalah, kemudian timbul beberapa aksi yang menuntuk ahok untuk diadili. oke, saya setuju. kalau seorang pemimpin bisa dengan seceroboh itu mengatakan hal yang menyinggung suatu kaum, menurut saya, ia pantas diadili. seorang muslim juga berkewajiban untuk stand against whoever yang ‘melecehkan’ agamanya. saya salut dengan aksi yang pertama. saya paham niat mereka baik.

lalu timbul dan lahir aksi-aksi serupa hampir setiap bulan saat ahok udah jelas-jelas meminta maaf. bahkan, proses hukum untuk beliau juga mulai dijalankan. aksi-aksi yang membawa banyak massa, dengan tujuan yang sama dari awal, agar ahok diadili.

pertanyaannya, jika beliau bukan ahok, apa aksi-aksi itu akan ada? jika yang mengatakan hal serupa adalah seorang warga sipil biasa yang nggak punya muatan politik, apa aksi itu bakal ada?

saya nggak berniat suudzon, tapi di lihat dari kacamata orang awam sekalipun, rasanya aneh. yang saya takutkan, niat awal ”membela agama” itu luntur. entah digantikan dengan apa…

sekarang, ahok harus bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkannya. bagi saya itu bukan kesedihan yang patuh diramai-ramaikan. iya, ahok emang salah dan beliau harus menanggungnya.

but he is a good guy….

i know, we all know, beliau emang orang baik. itu juga yang membuat ironi hingga muncul belasan meme berbunyi ‘give all to his country, imprisoned for 2 years’. dan yang lebih menyebalkannya lagi, banyak situs-situs yang harus menjadi korban hacker pendukung ahok, salah satunya website mantan sekolah sma saya (buat apa coba melakukan hal itu). nah, menurut saya: ya udah nggak papa, namanya orang yang salah ya dihukum. perkara dua tahun adalah rentang yang terlalu lama atau nggak, saya nggak punya ilmunya juga.

diam-diam, saya berharap, semoga beliau diberi hidayah yang membuatnya menerima hal ini. saya nggak tahu apakah ini termasuk hukuman atau cobaan bagi beliau. yang jelas, ahok nggak menerima vonis dua tahun tanpa sesuatu untuk dipelajari. entah apakah beliau akan keluar dan menjadi pemimpin hebat yang lebih berhati-hati dalam bertutur kata, atau entah bagaimana jalannya kedepan.

saya salut dengan ahok, tapi beliau tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukannya pada agama dan kitab suci saya.

saya juga berdoa, entah pendukung atau pembenci ahok, semoga nggak gelap hatinya hingga sebegitu banyaknya kata-kata benci bertebaran di timeline saya. ahok tetap manusia, dan sebaiknya sesama manusia nggak perlu berlebihan baik dalam menyukai maupun membenci.

 

surabaya, 11 mei 2017

pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)