Twitter Saya Mati

Capture
sedih…

Wah, jaman twitter emang mengesankan ya. Dulu saya sering bales-balesan mention sama pacar saya di twitter. Dulu dia juga pernah bilang:

”Aku nulis nama kamu di bio ya?”

”Ya terserah, aku sih nggak mau nulis nama kamu,” jawabku.

Iya meski cukup cerewet dan alay di jamannya, saya nggak mau nulis nama orang di bio. Soalnya, dulu sama Rizan, mantan saya, saya pernah nulis ”debra” di bio. Sementara Rizan menulis ”ian”. Siapa Debra dan Ian?

Kalau kata Rizan, mereka berdua itu sepasang kekasih yang berhasil bikin Debian (akronim dari debra dan ian). Debian itu kayak salah satu jenis linux. Linux itu apa? Halah, mboh, browsingo dewe.

Ya pokoknya, twitter itu banyak kenangannya gitu. Seinget saya, jumlah tweet saya hampir 30ribu lebih saat itu.

Tapi…

Beberapa saat lalu teman saya kantor iseng mencari tahu tentang Rizan di tweet saya. Dia mau tahu gimana drama saya dulu. Saking malunya dan takut ketahuan, saya deactive twitter saya. Beberapa saat lalu, saya mau aktifin lagi, eh nggak bisa dong. Saya coba ‘Forgot Password’ dan memasukkan username lama saya, katanya username tersebut nggak terdaftar.

Oke saya sedih, akun twitter saya, tweet-tweet nggak penting saya, tweet yang saya favoritkan, semuanya hilang.

Terus akhirnya saya bikin lagi deh akun twitter dengan username yang sama. Sedih, nggak punya followers. Hehehe, sedihnya sih gara-gara kenangannya jadi hilang. Tapi nggak papa deh, jejak saya sama Rizan jadi kehapus. Kecuali kamu mau buka twitternya Rizan, ya lain ceritanya kalau gitu.

Emang post ini nggak penting sih. Saya harusnya mengerjakan tugas akhir. Tapi, asli, saya males hari ini. Ya udah. Dadah, siapapun kamu yang terlalu nganggur sampai baca post ini.

Twitter Saya Mati

Saya juga Punya ‘Dilan’. Hehehe

Bukubiruku
Foto: Bukubiruku

Saat ini, saat saya menulis tulisan ini, sedang tanggal 26 Juli 2017. Sebentar – saya ijin nulis pakai ejaan yang benar, ya. Ya nggak benar-benar amat sih, setidaknya nggak semuanya pakai huruf kecil kayak biasanya. Di post sebelumnya, saya juga nulis pakai huruf yang ‘lumayan’ normal. Kenapa? Ya, nggak papa, baca tulisan yang huruf kecil semua kadang bikin bingung. Tapi, kalau nanti-nanti saya mood nulis pakai huruf kecil semua, ya terserah saya kan? Kan, saya penulisnya. Hehehe.

Ya, sekarang tanggal 26 Juli 2017. Artinya, tepat 21 hari lagi saya akan sidang tugas akhir. Terus, kalau sukses (harus sukses), saya jadi sarjana deh. Meskipun sekarang belum kelar, tapi saya buntu. Ya udah akhirnya 2 hari ini saya selesaiin baca buku karya Pidi Baiq. Iya, yang terkenal itu, yang tentang Dilan sama Milea.

Dua paragraf diatas panjang juga ya buat jadi kata pengantar. Intinya sih, bukan cuma Milea yang pernah punya Dilan. Saya juga. Tapi ya gitu, Dilan saya nggak kayak Dilannya Milea. Dilan saya, nggak lagi bikin rindu. Langsung mulai aja ya, bapak-bapak, ibu-ibu…

***

Dilannya saya bernama Rizan. Bukan nama asli tentu saja. Saya barusan ngarang beberapa detik yang lalu.

Oktober, 2013.

Saya berumur 17 tahun sebelum tanggal 19 di bulan itu. Setelah tanggal 19, saya naik tingkat, jadi umur 18 tahun. Beberapa hari kemudian, saya ketemu Rizan.

Saat itu, saya mahasiswi baru. Nggak perlu diceritakan kan kalau ini bukan kampus dan jurusan yang saya pinginin dari awal? Ya udah nggak usah. Di awal tanggal 20an -saya lupa dua puluh berapa gitu-, saya sedang ospek jurusan. Itu loh, kan ada ospek kampus sama ospek jurusan. Ospek jurusan ini diadakan setiap selasa sama jumat, mulainya jam 17.00 sampai…. ya sampai sepuasnya senior sih.

Agenda ospek hari itu (nggak tahu ini pas selasa apa jumat gitu ya) adalah perkenalan dengan senior tua. Sebut gitu aja ya. Jadi gini. Saat itu, saya maba, yang jadi panitia ospek itu senior tingkat dua. Senior tingkat tiga dan empat yang akhirnya saya sebut jadi senior tua dapat bagian istimewa, jadi pelindung maba katanya. Empret…

Beberapa senior tua masuk ke dalam ruangan ospek. Ruangannya kayak aula tapi pengap bau keringat anak teknik. Mereka memperkenalkan diri, mengatakan kalau ospek jurusan bukan hal yang menakutkan, dan -kalau nggak salah- mengatakan kalau senior tingkat dua marah-marah ke kita, kita bisa mengadu ke senior tua. Yep, lucu ya?

Kelar ngomong panjang lebar, salah satu pentolannya yang daritadi emang paling banyak omong, ngasih pertanyaan. Lupa sih pertanyaannya apa. Pokoknya yang mau jawab harus maju. Meskipun suasana ospek waktu itu nggak tegang, tetap nggak ada yang mengacungkan tangan. Dan disitulah si pentolan memanggil saya, ”Kerudung pink bisamaju?”. Kampret, kok saya?

Ya udah saya maju. Ketawa-ketiwi karena ya gitu, lupa saya kenapa kok ketawa. Tapi, saya ingat saya ketawa-ketawa.

Ospek kelar, kami keluar dengan berbaris. Di luar, si pentolan dan temannya yang namanya Jeri (bukan nama asli juga) menyapa saya. ”Nggak usah tegang, dek”. Lah, apa coba yang tegang, batin saya saat ini.

Si pentolan itu, dia adalah Rizan. Bukan Rizan saya lagi sekarang.

***

Masih Oktober 2013.

Saat itu saya lagi dekat sama seorang senior tingkat dua, dari jurusan berbeda. Ya saya nggak suka-suka banget tapi ya nggak tahu kok nempel aja. Di malam saya ”diospek Rizan”, laki-laki bernama Budi ini (semua nama pokoknya nggak asli ya, titik), mengajak saya bolos ospek. Tapi, karena saya rajin dan agak takut, saya nggak bolos. Terus ya itu, disuruh maju sama Rizan dan Jeri. Dulu saya panggilnya mas Rizan sih. Sekarang juga. Cuma kan Milea nggak manggil Dilan pakai mas Dilan. Hehehe. Jijiq juga saya nulisnya.

Suatu siang, saya makan di kantin sama Budi. Di meja sebelah saya, ada Rizan, Jeri dan beberapa teman lainnya. Kalau kamu mau tau, saat itu, Rizan punya pengaruh besar, nggak cuma di jurusan tapi juga di kampus. Dia mahasiswa tua, tua lah pokoknya dan belum lulus saat itu. Jarak usianya 6 tahun diatas saya. Katanya, kalau ospek, Rizan sering marah-marah, yang lain? Ya diam aja, kan yang lain nggak ada yang setua dia.

Saat saya makan bareng Budi. Sebenernya saya males, saya udah males berurusan sama Budi. Kenapa? Karena saya lagi dekat sama anak seangkatan saya. Namanya Ghani, anaknya romantis, suka memberi saya kata-kata manis, saya juga suka diberinya kata-kata manis. Saya pernah tulis beberapa post tentang Ghani.

Muka malas saya saat makan bareng Budi mungkin kelihatan banget di mata Rizan dan teman-temannya. Saya dengar mereka mengatakan beberapa hal tentang saya dan Budi. Tapi saya nggak tahu apa. Setelah kenal Rizan, dia bilang kalau saat itu mereka sempat menyindir dengan suara keras ”Kalau anaknya males, ya udah jangan dipaksa”. Kaya gitu lah kira-kira. Kayaknya Budi dengar, tapi saya nggak.

Di hari yang sama, sorenya saya ada bimbel. Ya emang aneh. Itu kayak bagian dari kegiatan jurusan, dimana senior tingkat dua akan memberikan kita pembekalan sebelum UTS. Cuma berlaku untuk semester satu sih. Acaranya habis maghrib kalau nggak salah. Saya telat masuk karena kebanyakan ngobrol sama Budi atau Ghani gitu. Lupa.

***

Sepulang bimbel, saya menuju parkiran. Di jalan saya bertemu Rizan. ”Mas…,” sapa saya sambil menganggukan kepala. Rizan hanya tersenyum. Wah, mas ini sangar ya, batin saya dulu.

Di parkiran udah cukup gelap. Saya berjalan menuju sepeda motor saya, sebelum tiba-tiba ada yang memanggil saya dari belakang. Saya menoleh. Itu Rizan. Dia mengikuti saya tapi saya kok nggak sadar ya.

”Dek, minta nomer hape kamu”

”Buat apa mas?”

”Ya nggak papa, nggak boleh emang?,” Rizan lalu memberikan kertas dan pulpen. Saya menulis nomer hape saya.

Gila. Gila. Gila.

Saya emang sering didekati beberapa senior saat baru masuk kampus. Tapi semuanya dapat kontak saya dari MIS. Itu kaya aplikasi kampus dimana mereka yang punya akun bisa mencari identitas temannya yang berada di kampus ini. Mereka dapat kontak saya dari situ atau dari grup angkatan atau dari temannya, entahlah. Rizan? Dia minta sendiri ke saya.

Bro, saya nggak papa dibilang kuno, tapi cara kayak gitu tetap bikin saya kesengsem, mungkin sampai saat ini.

***

Saya pulang ke rumah, hati saya gembira. Gembira kayak gini loh: gila, gila, pentolan kampus, yang banyak ditakuti orang, minta kontak saya secara langsung.

Ah bodo amat, saya masih berpikir begitu di jalan, takut kegeeran.

Di rumah, saya duduk di sofa. Saya nggak punya meja makan, jadi saya makan di sofa ruang tamu. Saya ingat betul, makan malam saya saat itu soto. Sudah empat tahun berlalu tapi saya masih ingat. Kemaren saya makan apa aja saya udah lupa.

Saya makan, ibu saya ada di sofa seberang saya. Soto saya belum habis, ada telepon masuk. Saya hampir yakin itu Rizan meski tidak ada nama peneleponnya. Saya benar. Saya agak lupa isi percakapannya, tapi kira-kira begini:

”Halo assalamualaikum, ini siapa?” tanya saya

”Waalaikumsalam, siapa hayo? Masak nggak kenal suaranya?”

”Mas Rizan?”

”Heheh iya. Sudah pulang kamu?”

”Udah mas, ada apa mas?” Wah, gila, si pentolan telepon, saya malah tanya kenapa. Lah, saya nggak ngerti maksudnya.

”Ya nggak papa kan,”

Udah gitu, saya lupa bahas apa. Yang jelas dia tanya saya lagi makan apa. Makanya saya ingat kalau lagi makan soto. Kalau nggak salah, dia bilang kalau sebenarnya dia udah punya kontak saya dari MIS, tapi dia mau tanya langsung.

Setelah saya naik ke tingkat dua, saya baru sadar ternyata itu habit kampungan cowok-cowok senior. Ya itu, cari kontak maba cewek inceran lewat MIS.

Telpon berlangsung cukup lama sampai akhirnya Rizan memutuskan untuk menutup telpon supayan saya bisa lanjut makan soto. Sesudahnya, kalau nggak salah, saya harus menjelaskan ke ibu siapa orang yang saya telepon.

Ada line masuk, dari Rizan, Katanya nomer hape saya nge-link dengan kontak line. Ya sudah, dia dapat dua kontak saya hari itu

***

Hari itu, hari pertama Rizan telpon nyatanya jadi hari pertama dia mendekati saya. Dia mulai mengucapkan selamat pagi di pagi hari dan banyak hal. Dia mengamati saya diam-diam yang sedang kumpul angkatan.

”Aku lihat kamu loh,” ujarnya.

”Oh ya? Kamu dimana emang?” Iya, saat itu saya udah pakai aku-kamuan sama Rizan.

”Tebak dong dimana”

Saya lihat dia ada di lantai 3, mengamati saya yang ada di lantai 1.

”Hei sini, turun,” panggilku dari bawah. Rizan tersenyum.

”Ngapain aku kumpul sama maba,” dia mencibirku.

Saya mungkin benci Rizan sampai ke akar-akarnya saat ini, tapi detik itu, saya bahkan rela melepas Budi dan Ghani demi bisa dekat dengan Rizan.

***

Besok-besoknya, berita kalau saya dekat dengan Rizan hampir tersebar. Iya, saya jadi merasa sedikit aman. Pernah suatu kali saya telat ospek jurusan. Rizan yang mengantar saya. Nggak ada yang berani memarahi saya saat itu. Ya, sekarang tahu kan kenapa Milea dan Dilan mengingatkan saya sama Rizan. Tapi, Rizan nggak romantis kayak Dilan. Kalau mau bagian yang romantis, lain kali saya ceritakan tentang Ghani. Sampai kamu bosan. Hehehe.

Sejak dekat dengan Rizan, saya tahu dia orang yang kayak gimana. Dia perokok, peminum tapi bukan pemain perempuan. Setidaknya itu yang dia bilang.

”Kamu pernah ngapain aja kalau pacaran,?” Seharusnya pertanyaan Rizan itu menyinggungku, tapi saya malah bodoh dan menjawabnya malu-malu.

”Ya nggak ngapa-ngapain. Gandengan tangan aja nggak pernah,”

”Aku paling jauh cuma ciuman. Meski nakal gini, aku juga tahu batasan. Nggak sampai yang lebih dari itu,”

Nggak nanya, rutuk saya saat menulis ini,

***

Saya belum pacaran sama Rizan saat saya mendengar kabar buruk tersebut. Saya dengar dari senior tingkat dua yang pernah dekat dengannya. Perempuan itu menceritakan sesuatu yang buruk dari Rizan yang dia bilang nggak akan melakukannya. Perihal apa? Biar saya dan orang-orang pada jaman itu saja yang tahu.

Saya dengar kabar itu, saya mau nangis. Tapi, disana banyak orang. Saya nggak bisa nangis di depan banyak orang. Saya chat Ghani. Dia ajak saya ketemu di hall kampus. Itu juga bukan tempat yang sepi, tapi saya nangis sejadi-jadinya di depan Ghani. Ah, kalau saja kamu tahu apa yang Ghani bilang ke saya saat itu, kamu pasti menyuruh saya meninggalkan Rizan dan pergi ke Ghani saja.

Tapi saya sudah jatuh cinta ke Rizan.

Hari itu juga, saya chat Rizan. Saya minta ketemu dan minta penjelasan.

”Katamu kamu nggak bakal melakukan itu?” tanya saya ketika bertemu dengannya di kantin. Saya mbrebes mili, mata saya berkaca-kaca. Hidung saya mungkin merah.

”Aku emang nggak ngelakuin itu”

”Terus kenapa mbak Ria bilang gitu?” Mbak Ria adalah orang yang pernah dekat dengan Rizan, perempuan tercantik sekampus mungkin. Mbak Ria adalah orang yang memberitahu saya berita itu, ya lewat adiknya sih, Ina, teman sekelasku.

”Ya Ria iri lah. Dulu aku pernah bilang gitu ke Ria tapi aku bohong ke dia,”

”Buat apa bohong tentang hal kayak gitu?”

”Soalnya aku tau Ria orangnya kayak gitu. Jadi, aku kasih aja cerita bohong. Biar dia sebarin berita bohong sekalian,”

Saya diam. Saya emang nggak percaya. Sampai detik ini juga nggak percaya. Tapi saat itu, saya diam. Saya tahu Rizan nggak suka ditekan.

***

Setelah hari itu, saya dan Rizan makin dekat. Meski baru seminggu, saya udah kode-kode minta ditembak. Iya, emang saya dulu sehina itu. Ya gitu lah, maklum, dideketin pentolan jadi gila tahta gitu kayaknya.

31 Oktober 2013.

Saya baru selesai UTS kalau nggak salah. Rizan mengantar saya ke parkiran, mau pulang. Rizan emang nggak pernah nganter saya pulang saat itu jadi dia cuma nganterin sampai parkiran lalu bakal kembali ke lab TA. Itu lab khusus mahasiswa tingkat akhir, boleh nginep. Rizan nginep biasanya.

Di depan parkiran, Rizan menyuruhku jangan pulang dulu.

”Aku mau ngomong,” kata Rizan

”Iya, apa?”

”Aku cuma nanya sekali nih, terserah kamu jawab apa. Kamu mau pacaran apa nggak?”

Saya ketawa. ”Lah kalau nggak mau?”

”Ya nggak masalah. Tapi besok aku udah nggak deketin kamu lagi. Aku juga nggak bakal nembak kamu lagi,”

”Iya, mau,”

Saya tersenyum. Rizan mungkin enggak.

Di ujung oktober, bulan yang menurut saya paling romantis, saya jadian dengan Rizan. Laki-laki yang pertama kali nembak saya secara langsung dan saya terima. Mantan-mantan sebelumnya nggak ada yang nembak langsung. Ada beberapa yang nembak langsung tapi nggak saya terima. Jadi ya gitu.

Saya senang hari itu. Senang dan bangga mungkin.

***

Beberapa hari setelah pacaran, Rizan ngajak saya nonton. Dia jemput saya pakai mobilnya. Belakangan saya tahu, dia bela-belain pulang ke rumah (Rizan jarang pulang karena nginep di lab TA) dan ambil mobilnya buat jemput saya. Oke, saya tersanjung.

Saya nonton di Tunjungan Plaza. Film Thor, lupa yang mana. Pokoknya Thor yang tahun 2013. Itu pertama kalinya saya pegangan tangan sama laki-laki. Demi apa aja deh, saya deg-degan. Perut saya berputar. Saya nggak bisa mikir. Saya nggak tahu deh cerita filmnya apa.

Hari itu Rizan yang traktir. Termasuk bayarin saya ngopi di Excelso. Wah, kamu tahu, itu pertama kali dan terakhir kalinya hingga detik ini saya jajan di Excelso. Atau bahkan Starbucks. Saya emang udah kerja saat ini. Lebih dari cukup untuk jajan dan ngopi di tempat seperti itu, tapi saya kurang suka. Kalau mau foya-foya di jaman sekarang, saya mending makan all you can eat. Hehehe.

Rizan memang selalu bayarin saya. Uangnya banyak, keluarganya berada. Dulu waktu masih PDKT, saya lagi kerjain tugas bareng teman kampus, Rizan chat saya, ngajak makan. Saya iyain. Saya naik motornya. Saya kira kita bakal makan di Gebang atau Keputih (Ini nama-nama jalan di dekat kampus yang padat kost-kostan dan warteg makanan). Nggak tahunya lurus sampai jalan Manyar Kertoarjo. Berhenti di depan Pizza Hut.

Rizan pesan beef lasagna sama pizza ukuran medium. Waktu kami pulang, pizzanya masih sisa 3 atau 4. Waitress menawarkan buat dibungkus, Rizan bilang nggak usah. Ya Allah, kalau saya boleh balik ke masa itu (meski saya juga nggak mau), saya pingin pizzanya di bungkus. Tapi saya gengsi bilangnya pas itu.

Juga untuk kejadian Excelso. Saya awalnya mengajaknya makan di food court.

”Ngapain jajan di foodcourt? Mulai sekarang tempat makannya ganti ya…,” ujar Rizan. Kalau saya udah lebih dewasa sedikit, saya harusnya marah dia bilang kayak gitu. Apa yang salah sama foodcourt. Di sana juga ada yoshinoya. Lah kenapa bahas yoshinoya? Iya saya lagi pengin yoshinoya ini. Sedih.

Nggak cuma itu. Rizan juga pernah mengajak saya makan eskrim di Zangrandi. Ini tempat jualan eskrim yang ada dari jaman ibuku masih kecil. Mereka masih mempertahankan resepnya sampai saat ini. Ketika yang lain udah pindah ke Gelato, mereka masih jualan eskrim yang macam banana split itu. Harganya mahal, sampai sekarang saya punya gaji sendiri, rasanya tetap mahal.

”Hari ini, giliran kamu yang bayarin ya?,” kata Rizan sambil menunggu eskrimnya. Saya tahu dia cuma menggoda, maka saya berpura-pura keberatan.

”Nggak punya duit,”

Rizan cuma ketawa.

Malam itu, waktu saya makan eskrim sama Rizan, Rizan sibuk dengan hapenya.

”Siapa?,”

”Biasa ini anak-anak pada bercanda di Path,”

Dari detik itu dan selanjutnya, Rizan bukan lagi Dilan yang saya bayangkan.

***

Karena kisah berikutnya nggak manis dan cenderung banyak luka, saya persingkat beberapa bagian ya. Saya banyak bertengkar dengan Rizan. Saya cemburuan, Rizan hampir tidak peduli. Saya banyak melarang Rizan melakukan hal-hal buruk, saya kawatir dia kembali minum-minum. Setiap kali dia pulang malam, saya kawatir, saya menangis.

Saya tanya ke dia kapan terakhir dia minum-minum.

”Udah lama,”

”Ya, lama itu kapan?”

”Lama lah sebelum sama kamu pokoknya,”

”Ya, kapan?”

”Awal semester ini,”

”Ya itu nggak lama dong,”

”Ya kan itu sebelum sama kamu sih,”

Lihat? Saya emang menjengkelkan saat itu. Dengan temperamen Rizan, saya tahu saya telah melempar api dengan bensin. Tapi, ya itu lah saya di tahun 2013, posesif. Saya belum jalan 1 bulan dengan Rizan saat semua itu terjadi.

***

Desember 2013

Kalau ada bulan lain yang sedikit lebih romantis dari oktober, maka itu bulan desember. Tapi tidak dengan tahun itu.

Saya lagi-lagi memancing amarah Rizan. Saya cemburu lihat dia berbalas mention dengan teman cewek angkatan saya. Saya -iya dulu saya bego- mulai menyindir-nyindir dengan status saya.

Dan drama dimulai.

Rizan mungkin sudah bosan dengan sikap saya. Bukannya langsung ngechat saya, Rizan justru membalas sindiran saya di twitter. Bisa kamu bayangkan, posisi Rizan adalah pentolan kampus, semua orang kenal Rizan. Saat saya jadian dengan Rizan, semua orang tahu. Maka saat saya bertengkar dengannya di timeline twitter, itu bagai undangan nonton film premiere.

Saya nggak mau lanjutin drama di twitter. Saya chat dan sms Rizan, saya minta maaf. Dia bilang, ”kamu childish terus, kalau gitu terus, mending kita udahan aja”. Saya nggak hapal detailnya tapi intinya kaya begitu. Saya buru-buru balas pesan dia, berusaha menelponnya, tapi pesan saya nggak dibalas, telpon saya direject. Tapi dia online twitter, dia bikin status yang saya tahu menyindir saya.

Saat itu hampir jam 12 malam, saya panik, saya cuma bisa nangis, saya nggak bisa putus sama Rizan, nggak hari itu. Saya bingung, kontak saya nggak pernah dibalas. Saya telepon Ghani, saya hampir nangis saat dia mengangkat telepon. Dia cuma dengerin sebentar sebelum menjelaskan kalau dia sedang ada perlu dan menyuruh saya untuk cerita besok saja. Saya kecewa, dengan Ghani, dengan Rizan, dengan diri saya sendiri berkali-kali lipat.

Saya tidur malam itu. Pagi harinya belum ada balasan dari Rizan.

”Ya sudah kalau kamu nggak mau ngomong. Iya nggak papa kita udahan aja, makasih ya,” pesan itu mengalir saja dari jari-jariku sampai akhirnya terkirim ke Rizan.

Hari itu, Rizan selesai, tapi saya belum

***

Kalau kamu Rizan, atau kenal Rizan, atau paling tidak tahu siapa Rizan yang saya maksud, kamu mungkin tahu saya terpuruk sekali saat putus dengan Rizan. Saya nangis berhari-hari, saya lewat kantin kampus, saya nangis, saya lewat parkiran kampus, saya nangis, saya duduk di sofa yang pernah saya duduki saat telepon Rizan, saya nangis.

Ya gitu, saya sedih luar biasa, luar biasa sedih. Saya sampai kehilangan nafsu makan.

Beberapa hari kemudian, saya bertemu Rizan dan teman-temannya di kantin. Entah kenapa, saya merasa diperolok dengan apapun yang sedang mereka tertawakan saat itu. Saya nangis mati-matian tiap hari, Rizan bisa tertawa seperti itu, gimana saya bisa percaya kalau selama ini dia beneran pacaran sama saya?

Saya coba chat dia beberapa saat kemudian, saya tanya apa dia sudah move on.

”Kenapa memangnya?” tanyanya.

”Kok kamu kelihatan happy, apa emang udah move on sebelum putus,”

”Enggak kok. Aku emang gitu, kalau udah ya udah,”

Oke. Bisa diterima…

Tapi semenjak hari itu, saya menjadi orang yang mengesalkan. Saya jadi berani chat-chat Rizan lagi. Kalau ada yang mention dia di twitter, saya tanya siapa itu. Sampai suatu hari, Rizan nggak balas chat saya.

”Kok kamu nggak balas chat?”

”Ya kamu berhenti dong kayak gitu. Cewek itu yang punya harga diri dikit gitu,”

Wahai perempuan, siapapun kamu, tolong ini dijadikan pelajaran. Nggak usah kejar-kejar mantan kalau dia udah kelihatan nggak interest. Apapun yang dikatakan Rizan malam itu, itu jadi pelajaran berharga hingga hari ini. Tidak sekalipun hingga hari ini saya mohon-mohon ke laki-laki. Rizan boleh bangga jadi laki-laki terakhir yang bikin saya seperti itu. Tapi kalau saya jadi Rizan, saya malu.

 

***

Ya gitu lah, selintas kisah saya dengan Rizan yang bukan Dilan. Saya nggak lagi-lagi tertarik dengan bad boy. Mereka emang bikin deg-degan tapi ya itu, bikin saya jadi kayak gitu. Hahaha.

Kalau Milea masih rindu Dilan setiap malam, saya tidak. Saya sudah pacar sekarang. Saya nggak rindu setiap hari sih tapi saya mau sama dia tiap hari. Saya luar biasa bahagia sama dia saat ini. Rizan ? Saya nggak tahu. Meski saya benci dia karena memperlakukan saya seperti manis diawal saja, saya tetap berharap dia bahagia.

Rizan bukan laki-laki baik buat saya. Mungkin bagi Rizan, saya juga bukan perempuan yang baik buat dia. Nggak masalah, Rizan bisa punya pendapatnya. Tapi jika saya bisa kembali ke Oktober 2013, saya nggak akan mau saat Rizan nyamperin saya buat minta nomer hape. Saya nggak mau sama Rizan, nggak mau lagi. Biar Rizan untuk siapa saja, asal jangan saya. Asal jangan saya lagi.

Saya juga Punya ‘Dilan’. Hehehe

Mumblecore Story: Marriage

THE WATCHLEAST
Foto: THE WATCHLEAST

‘’Ya, prinsipku tetap gitu sih Bil,’’

Kepulan asap rokok langsung mengikuti ucapannya, bukan menjadi penutup perbincangan. Justru –sepertinya– memancing perdebatan lebih lanjut.

Saya menghela nafas sebentar sebelum menjawab:

‘’Saya udah tahu prinsip kamu sejak kamu masih di dalam kandungan,’’ jawab saya, udah terlalu malas untuk berdebat.

Gia menjentikkan rokoknya ke asbak. Kalau saja dia bukan sahabat saya, saya bakal pura-pura batuk supaya dia menyingkirkan batang mematikan tersebut.

‘’Udah deh Bil, kalau kamu ditanyain pertanyaan itu lagi, kamu jawab aja ‘’nunggu Gia ngelamar’’, tapi aku ngelamarnya nanti. Nanti kalau udah bisa belikan kamu rumah,’’

‘’Dan gincu,’’ lanjutnya.

Saya cuma bisa diam. Seperti biasanya, Gia adalah dominator dalam setiap pembicaraan. Nggak heran, Gia sering memanggil saya ‘submission’.

Saya tahu dia hanya bercanda.

Merasa tenggorokannya kering terkena asap, Gia mengecek isi cangkirnya. Kosong. Tanpa ijin, tangannya meraih botol air kemasan saya.

Saya nggak akan minum dari botol itu lagi. Bau rokok.

Gia berdiri dan berjalan ke arah kasir. Dia kembali dengan sebotol air mineral lain. Saya tahu air itu untuk saya.

Saya dan Gia bukan pecinta romantisme. Tidak ada kasus friendzone, adik-kakak zone, atau zone-zone apalah itu dalam kamus kami. Kalau saya suka Gia, saya sudah bilang sejak dulu. Kalau saya suka Gia, saya nggak bakal bisa tidur tenang setelah Gia mencium bibir saya di mobil waktu itu. Gia bilang, bibir saya hampir sama kayak rokok yang dikonsumsinya sehari-hari. Sederhananya, hambar.

‘’Tapi nagih loh, ya kayak rokok gitu,’’ ujarnya kala itu. Nggak ada satupun dari kami yang salah tingkah.

Gia adalah sahabat. Bukan kakak, bukan adik, bukan hal-hal romantis lainnya yang membuat kami lebih dari seorang sahabat.

Larut dalam pikiran, saya hampir nggak sadar saat pesanan roti bakar datang ke meja kami. Gia yang memesannya saat membelikanku air mineral tadi.

‘’Saya nggak bisa tidur, Gi. Saya kayak dicemplungin ke kolam kecemasan,’’

Gia tertawa, ‘’Apa sih? Sok bermajas gitu bahasa kamu,’’. Ada jeda sejenak sebelum Gia melanjutkan ucapannya:

‘’Gini Bil. Kamu pingin nikah muda nggak?,’’ tanyanya.

‘’Saya udah 22. Udah nggak muda lagi,’’

Gia sama sekali nggak terlihat kesal. ‘’Harus banget nikahnya sama Kala?’’ tanyanya, seolah jawaban saya sebelumnya nggak memberikan efek apapun terhadap percakapan ini.

Saya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

‘’Kalau nggak harus sama Kala, aku bisa kenalkan kamu ke temen-temenku. Ini bukan penawaran pertama loh Bil,’’

‘’Teman kamu merokok semua,’’

Gia tetap nggak kesal. Dia tahu saya sekeras batu, maka dia akan selalu jadi air.

‘’Bil, boleh jujur nggak nih?’’

Saya diam, nggak menjawab.

‘’Kalau dibilang cantik, kamu tuh sebenernya biasa aja loh. Ya sekitar 6 dari 10 lah. Padahal temen-temen yang mau aku kenalin ke kamu tuh banyak yang 9 dari 10 loh,’’ ujarnya, sambil lagi-lagi meniupkan kepulan asap rokok yang dihisapnya.

‘’Saya tahu, Gi,’’, ‘’Saya masih yakin Kala bakal ngelamar saya tahun ini,’’ lanjut saya, nggak mempedulikan ejekan halus yang baru saja dilontarkannya.

‘’Kalau yakin, ya jawab aja pertanyaan pakde-budemu itu, ‘’Iya pakde, bude, saya yakin dilamar tahun ini. Sebelum tahun baru, insha Allah udah menikah’’. Beres kan?’’

Saya terdiam. Diamnya saya selalu menjadi kesempatan untuk Gia menjadi dominator.

‘’Bil, Kala itu nggak pengangguran loh. Dia kerja buat kamu. Ya meskipun belum bisa bikin kamu jadi mama sosialita sekarang. Paling enggak, Kala tuh udah usaha,’’

‘’Gini deh Bil. Kala bahkan bisa seberani itu nunjukkin jumlah tabungan yang udah dia kumpulin buat nikahin kamu. Bandingin deh sama aku. Raya udah berapa kali tuh ngode-ngode minta aku nikahin. Saking sebalnya, aku sampai….’’

‘’Ya itu kamunya aja sih Gi yang keterlaluan,’’

‘’Keterlaluan gimana? Raya kayak kamu sih. Nggak mikir besok kalau udah nikah, anaknya nggak cuma butuh makan, tapi juga fasilitas yang menjamin. Biar mereka bisa kuliah sampai S3, nggak kayak kita, lulus S1 aja pakai keringat sendiri,’’ jawab Gia panjang lebar, nadanya mulai terdengar kesal.

‘’Gi, rejeki kan nggak ada yang tahu,?’’

‘’Lah justru itu, kamu mau gambling?’’

Saya terdiam.

‘’Aku nggak nyalahin prinsipmu Bil,’’ nada Gia merendah. Tangannya mengambil sepotong roti bakar dan mulai mengunyahnya.

‘’Bil, aku bakal senang kok kalau Kala beneran ngelamar kamu tahun ini,’’ roti bakar di mulutnya udah habis dan itu artinya Gia bakal menghabiskan menit-menit berikutnya untuk menceramahiku.

‘’Meski nggak kenal Kala, aku yakin dia orang yang baik. Bukan buat kamu aja, tapi buat lingkunganmu juga. Kalau kamu mau nunggu dia, aku yakin penantianmu bakal dibayar sama Kala. Tapi kalau emang kamu keburu buat menjawab pertanyaan pakde budemu yang anggota pro nikah muda itu, ya silahkan. Silahkan mencari sekenanya yang mau kamu ajak nikah cepat. Tapi jangan bodoh…’’

‘’Jangan bodoh. Sekenanya seorang laki-laki, paling enggak dia punya dua hal buat kamu. Rasa sayang dan tanggung jawab,’’ lanjut Gia membuat saya tertegun dan mulai meminum air kemasan yang baru dibelinya.

Ada hening cukup lama setelah Gia memberikan petuah panjang lebar. Gia mulai memainkan ponselnya. Mungkin membalas chat Raya.

Gia sudah putus lama dengan Raya. Raya akhirnya menikahi laki-laki yang berani melamarnya tanpa pacaran. Saya dan Gia datang ke pernikahan mereka berdua. Saya tahu Gia sempat terbesit untuk memeluk Raya dan menumpahkan rasa rindunya. Tapi Gia justru melontarkan candaan ke suami Raya dan membuat mereka terlihat seperti teman lama.

‘’Bil, Raya hamil,’’ ujar Gia dengan nada super santai seolah-olah mengabarkan kalau kucing kesayangannya lagi-lagi bunting oleh jantan yang nggak dikenal.

‘’Nggak sama kamu kan?’’

‘’Nggak, kita pasti main aman kok,’’ ujarnya lantas tertawa. Saya tahu dia nggak bercanda.

Batang terakhir dari pack rokok Gia udah abis. Artinya, udah tiga pack yang dia habiskan hari ini. Sejak tahun lalu, Gia mulai membatasi kebiasaan merokoknya. Iya, tiga pack itu batasannya.

‘’Bil, Kala nggak kayak Raya kok,’’

‘’Ya emang enggak,’’

‘’Nggak kayak aku juga kan Bil?’’

‘’Maksud kamu, ngehamilin istri orang?’’

‘’Aku nggak ngehamilin Raya, Bil,’’ jawabnya setengah serius.

‘’Iya aku tahu maksud kamu. Kala emang orang baik. Saya hanya……. hanya terlalu ‘haus’,’’

Gia tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak roti bakar yang dimakannya. Sedikit banyak, saya emang nggak bercanda. Sedikit banyak, itu juga yang jadi alasan saya punya prinsip berbeda dengan Gia.

‘’Kalau cuma ‘haus’, sama aku juga bisa Bil,’’ jawabnya sambil cengengesan.

Gia, Bahagia Semesta nama panjangnya, sahabatku sejak semester satu di bangku kuliah. Kalau disuruh memilih Kala atau Gia, saya akan memilih Kala. Pun begitu dengan Gia kalau dia masih bersama Raya saat ini. Kami berdua bukan prioritas untuk satu sama lain. Tapi kapanpun salah satu dari kami membutuhkan teman cerita dan lainnya tidak sedang menjalin kasih, maka akan ada secangkir kopi, sebotol air mineral dan sepiring roti bakar untuk berkeluh kesah.

Sisa malam itu kami habiskan sambil membicarakan tentang seorang gubernur yang harus dipenjara karena perkara politik. Perdebatan dengan Gia emang nggak akan mengeluarkan pemenang. Tidak juga solusi. Perdebatan dengan Gia hanya akan mengosongkan cemas untuk hari ini. Iya hari ini saja. Lalu besok, kalau masih cemas, Saya akan menghubungi Gia lagi.

 

 

 

Catatan:

-In case teman-teman saya menemukan tulisan ini, please no hard feeling. Sebab, nama dan latar cerita hanya fiksi.

-Mumbelcore story bakal jadi genre baru di fiksi saya dimana ada banyak percakapan dan minim penjelasan. (Ini juga kalau saya konsisten nulis genre ini. Hehehe)

Mumblecore Story: Marriage

pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)

ahok

wah, akhirnya saya menulis tentang topik yang paling saya hindari – politik. nah, sebelum kamu ‘nggetu’ baca tulisan ini, saya jelaskan dulu kalau saya nggak punya ilmu politik. ilmu agama saya juga masih cetek. nggak punya ilmunya kok berani nulis? ya maap sob, toh di timeline kamu udah banyak yang kayak gini. so, chill and (try to) enjoy…

pertama, saya mau tekankan, kalau saya bukan warga jakarta. saya juga bukan fan atau hater ahok. jadi netral nih? hm, nggak tau juga sih, baca dulu deh…

kedua, kalau saya warga jakarta, saya juga nggak bakal pilih ahok. iya, saya juga nggak akan pilih anies. saya golput, sama seperti pemilihan presiden sebelumnya. bukan karena saya nggak paham program-program mereka, bukan juga karena saya skeptis sama kinerjanya, saya cuma takut menanggung dosa kalau seandainya pilihan saya nggak bisa tanggung jawab dengan janji-janjinya.

well, poin di atas mungkin bisa diserang dengan ideologi pemuda jaman sekarang yang mengatakan ”gimana mau ngerubah indonesia kalau warganya memutuskan golput dan nggak menunjuk pemimpin yang tepat?”. siapa yang mau merubah indonesia? terus, siapa pemimpin yang tepat? oh my dear, we don’t know yet.

so, balik lagi. baru-baru ini, ahok, gubernur jakarta (atau sekarang mantan gubernur jakarta) mendapatkan banyak sorotan. nggak main-main, berbagai media asing turut meramaikan profil satu ini. pertama, beliau yang saat jadi gubernur dikenal dengan pribadi yang keras namun kerja bersih, mencalonkan jadi calon gubernur jakarta periode berikutnya. sayangnya, secara mengejutkan, beliau kalah dan meninggalkan berjuta-juta kesedihan di dunia maya maupun nyata. kedua, yang terbaru, proses hukum yang menjeratnya atas nama agama, ‘berhasil’ menjatuhkannya hukuman selama dua tahun penjara.

cool.

kalau saya jadi ahok sih saya udah nangis. tapi ini ahok, saya yakin hati dan mentalnya sudah ditempa beribu baja hingga bisa sekuat sekarang.

jadi ini pendapat saya….

tanpa menghapuskan kenyataan bahwa saya warga sipil dan beragama islam, saya berusaha menyampaikan apa yang ada di pikiran saya. sedikit banyak, pendapat ini udah saya utarakan ke pacar saya saat makan di restoran cepat saji.

sebagai umat islam, iya saya menjunjung tinggi al-quran beserta isi dan terjemahannya. meskipun masih ada perdebatan tentang makna ‘awliya’ pada surat al maidah ayat 51, saya tetap nggak akan memilih pemimpin non muslim. alasan yang sama mungkin juga mendasari beberapa dari 57 persen lebih warga jakarta yang nggak memilih ahok.

”i choose A because i don’t like B”

yap, pretty much like that. btw, ini opini saya aja loh. ya menurut saya -yang bukan pakar politik-, beberapa yang milih anies didasari karena dia nggak suka ahok. as simple as that. nggak maksud suudzon sama yang milih anies juga sih.

oke lanjut. nah kalau saya sendiri gimana? seperti yang udah saya katakan sebelumnya, saya nggak bakal milih keduanya. saya tahu ahok kerjanya bagus, tapi beliau bertentangan dengan ajaran agama saya. sementara anies? insha allah, saya emang kurang tahu track record beliau kecuali menjadi korban dari reshuffle kabinet jokowi.

itu salah satu alasan kenapa saya nggak milih ahok (dan juga anies), tentunya selain alasan kalau saya bukan warga jakarta sih. hehehe. sekarang lanjut ke masalah yang menyeret ahok hingga timbul olokan ”salam dua tahun” tersebut.

sebagai muslim, saya tersinggung mendengar ahok membicarakan salah satu surat di al-quran seperti itu. saya udah dengar kok versi fullnya. kalau kamu masih bilang “makan sendok” dan “makan pakai sendok” itu beda, mungkin pendapat kita yang bertentangan. ahok nggak bilang “makan pakai sendok”. bukan seperti itu menganalogikannya. yang jelas, menurut saya beliau salah karena mengatakan kalau ada ‘lawan politiknya’ yang menjadikan surat ini sebagai senjata untuk menyerangnya. terlepas, ada kemungkinan, apa yang dikatakannya benar. tapi cara mengungkapkannya tetap salah.

sekali lagi, itu pendapat saya loh ya.

yang jadi masalah adalah, kemudian timbul beberapa aksi yang menuntuk ahok untuk diadili. oke, saya setuju. kalau seorang pemimpin bisa dengan seceroboh itu mengatakan hal yang menyinggung suatu kaum, menurut saya, ia pantas diadili. seorang muslim juga berkewajiban untuk stand against whoever yang ‘melecehkan’ agamanya. saya salut dengan aksi yang pertama. saya paham niat mereka baik.

lalu timbul dan lahir aksi-aksi serupa hampir setiap bulan saat ahok udah jelas-jelas meminta maaf. bahkan, proses hukum untuk beliau juga mulai dijalankan. aksi-aksi yang membawa banyak massa, dengan tujuan yang sama dari awal, agar ahok diadili.

pertanyaannya, jika beliau bukan ahok, apa aksi-aksi itu akan ada? jika yang mengatakan hal serupa adalah seorang warga sipil biasa yang nggak punya muatan politik, apa aksi itu bakal ada?

saya nggak berniat suudzon, tapi di lihat dari kacamata orang awam sekalipun, rasanya aneh. yang saya takutkan, niat awal ”membela agama” itu luntur. entah digantikan dengan apa…

sekarang, ahok harus bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkannya. bagi saya itu bukan kesedihan yang patuh diramai-ramaikan. iya, ahok emang salah dan beliau harus menanggungnya.

but he is a good guy….

i know, we all know, beliau emang orang baik. itu juga yang membuat ironi hingga muncul belasan meme berbunyi ‘give all to his country, imprisoned for 2 years’. dan yang lebih menyebalkannya lagi, banyak situs-situs yang harus menjadi korban hacker pendukung ahok, salah satunya website mantan sekolah sma saya (buat apa coba melakukan hal itu). nah, menurut saya: ya udah nggak papa, namanya orang yang salah ya dihukum. perkara dua tahun adalah rentang yang terlalu lama atau nggak, saya nggak punya ilmunya juga.

diam-diam, saya berharap, semoga beliau diberi hidayah yang membuatnya menerima hal ini. saya nggak tahu apakah ini termasuk hukuman atau cobaan bagi beliau. yang jelas, ahok nggak menerima vonis dua tahun tanpa sesuatu untuk dipelajari. entah apakah beliau akan keluar dan menjadi pemimpin hebat yang lebih berhati-hati dalam bertutur kata, atau entah bagaimana jalannya kedepan.

saya salut dengan ahok, tapi beliau tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukannya pada agama dan kitab suci saya.

saya juga berdoa, entah pendukung atau pembenci ahok, semoga nggak gelap hatinya hingga sebegitu banyaknya kata-kata benci bertebaran di timeline saya. ahok tetap manusia, dan sebaiknya sesama manusia nggak perlu berlebihan baik dalam menyukai maupun membenci.

 

surabaya, 11 mei 2017

pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)