analogi pasir

seorang anak kecil berusaha membangun istana pasir di pinggir pantai. pasir disekitarnya mulai habis menumpuk menjadi bangunan miliknya. ia mulai mencari ke sekeliling, mencari tumpukan pasir lain untuk ia jadikan bahan baku istananya. dan kemudian menemukan tumpukan yang ia cari, membawanya berlari ke arah tumpukan itu. ia tak membawa ember atau benda lain untuk menampung pasir sebanyak yang ia inginkan, jadi ia menggenggamnya dengan tangannya. ia mengambil segenggam, dipegangnya begitu erat supaya tak jatuh ditengah jalan lalu ia berlari ke arah istana setengah jadinya, sesampai disana ia membuka tangannya, dan menemukan pasir itu hanya setengah, sebagian telah hilang ditengah perjalanannya kesana.

tidakkah kau melihat manusia sama halnya dengan pasir ? yang bila kau genggam terlalu erat dengan rencana supaya kau tak akan kehilangan, justru suatu saat membuatmu kecewa saat kau membuka tangan sebab ia tak lagi disana.

jika kau menginginkan pasirmu tetap sebanyak ketika kau ambil pertama kali, maka bawalah dengan kedua tangan, jangan menggenggam terlalu erat, dan berjalanlah dengan hati-hati.

jika kau menginginkan seseorang untuk tetap tinggal, maka berikan perasaanmu sepenuh yang kau bisa, jangan mengikatnya terlalu keras, dan jagalah tanpa berlebihan.

analogi pasir