Cerpen yang Gagal: Kota Seratus Jiwa

note : tulisan dibawah adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan untuk lomba pada tahun lalu namun tidak menang. daripada mengering di folder saya, ada baiknya saya post disini.

Kota Seratus Jiwa

Oleh : Almas Salsabil

Tak banyak yang mengenal kota ini, kota yang bahkan tidak akan bisa kau temukan meski berjam-jam mencarinya dengan kaca pembesar pada selembar kertas peta. Sebuah kota kecil dengan penduduk tak pernah lebih dari seratus jiwa. Setiap kali jumlahnya hendak melewati angka seratus karena sebuah proses kelahiran, seseorang pasti akan pergi. Entah itu keajaiban Tuhan atau magis yang disumpahkan oleh tetua-tetua yang menemukan kota ini.

Aku tidak tumbuh besar dari kota ini. Dua tahun yang lalu, sebuah kebakaran hebat membumi hanguskan kampungku. Satu-satunya kampung yang penduduknya tahu tentang keberadaan kota ini, kampung yang terletak tujuh jam perjalanan dari sini. Tak banyak yang selamat dari peristiwa itu. Tak banyak pula yang bisa kami duga sebagai penyebab kebakaran yang mengambil kedua orangtua dan tiga orang kakakku.

Ada sekitar delapan orang yang bertahan dari peristiwa itu. Kami berjalan kaki dan datang ke kota ini. Mereka menyebutnya kota, padahal jumlah penduduknya bahkan lebih sedikit dari kampung kami dulu. Saat itu penduduknya hanya 62 jiwa, kami datang dan menggenapinya menjadi 70 jiwa. Sejak saat itu, aku terputus dengan rumitnya rimba beton diluar sana.

Kota ini punya sistem sendiri. Dulu saat aku masih tinggal di kampung, para orang tua sering mengatakan bahwa kota ini dihuni dukun-dukun. Tak layak bagi kami untuk menceritakan tentang kota ini, baik antar penduduk kampung atau dengan orang-orang dari kota besar yang terkadang sering berkunjung ke kampung kami. Tapi mungkin itu hanya bualan orang tua yang lelah menjawab pertanyaan anak-anaknya. Nyatanya kota ini tak jauh bedanya dengan kampung kami, dengan orang-orang dari kota besar.

Dihari pertama kami datang, tak seorang pun menanyai siapa kami. Kabar soal kebakaran itu telah sampai di kota ini, entah dengan media apa. Kami tak punya rumah, tak ada nasi untuk dimakan, derita kami lengkap. Kami menyusuri kota ini hampir sembilan jam lamanya. Hingga seorang bapak dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya,  menyapa kami di depan sebuah rumah yang nampak lebih mewah dibanding dengan rumah-rumah lainnya.

Bapak ini, ia mengatakan bahwa ia adalah presiden kota ini. Kota yang langsung dipimpin oleh presiden, tanpa melalui walikota atau gubernur. Ia menawari kami pertolongan cuma-cuma, menyuruh kami menyimpan seluruh rasa curiga kami terlebih dahulu. Ia mempersilahkan kami masuk ke rumah mewah yang ternyata miliknya. Rumah ini mewah untuk ukuran kota ini, mungkin juga untuk ukuran kampung kami dulu, tapi mungkin hanyalah rumah milik pegawai kelas tiga jika dibandingkan dengan rumah-rumah di kota besar.

Singkat cerita ia mulai menginterogasi kami. Tak ada satu kalipun ia bertanya alasan kami datang kesini, ia mengatakan bahwa telah menjadi rahasia seluruh kota mengenai apa yang terjadi dengan kampung kami beberapa hari yang lalu. Bahkan media massa dari kota besar tak ada yang meliput kejadian itu, tak satupun pegawai yang dikirimkan pemerintah menjenguk kami paska kejadian. Tapi bapak yang mengaku presiden ini, dengan seluruh kotanya, tahu akan hal itu.

Interogasi yang ia lakukan berisi tentang siapa kami, apa yang kami lakukan di kampung kami dulu, dan apa yang ingin kami lakukan di kota ini. Tak lama kemudian, si bapak presiden mulai mengangguk-angguk lalu membiarkan kami pergi. Hanya nasi kepal yang dibungkus daun singkong yang ia berikan sebelum menyuruh kami keluar dari rumah mewahnya. Ia mengatakan bahwa kota ini punya banyak bangunan tak terpakai, sisa-sisa penjajahan yang belum dibereskan. Kami bisa menempati salah satunya. Tak ada surat tanah, tak akan ada pajak bumi bangunan, semua yang ada di kota ini adalah milik penduduknya.

Tiga bulan semenjak peristiwa itu, aku bertemu dengan Detik. Detik bekerja sebagai pengantar surat di kota ini. Surat-surat yang dikirim antar penduduknya sendiri. Mereka bilang ini satu-satunya cara untuk meniru gaya orang-orang di kota besar. Aku hanya mengiyakan saja saat mendengar mereka berkata demikian, orang-orang kota besar bahkan sudah meninggalkan sistem itu berpuluh tahun silam.

Detik mengingatkanku pada Abang pertamaku. Abang dulu adalah seorang pekerja keras, ia membiarkan kedua kakak perempuanku untuk menikah terlebih dahulu. Abang bilang ia perlu melihat adik-adiknya punya sandaran lain sebelum dirinya sendiri menjadi sandaran gadis yang akan menjadi istrinya. Detik juga seorang pekerja keras, meski di kota ini tak ada sistem uang atau jual beli. Detik bekerja atas dasar kegembiraannya akan ekspresi penerima surat yang seringkali riang tanpa alasan.

Hari ketika aku bertemu Detik untuk pertama kalinya, ia berada di depan rumahku. Rumah bekas seorang veteran yang mati tak lama sebelum aku datang ke kota ini. Detik memberiku sepucuk surat, dari dirinya sendiri. Aku termangu membaca nama pengirimnya. Lalu ia tertawa, mengatakan bagaimana bisa seorang di kota ini sama sekali tak pernah menerima surat. Tawa pertama yang aku dapatkan semenjak peristiwa itu.

Detik mengajakku ke kantornya. Kantor yang hanya berisi dia sendiri, dan seorang laki-laki yang selamat denganku dari kebakaran kampungku dulu. Kantor ini lebih mirip studio dengan sebuah kamar, sebuah ruang tamu serta sebuah pantry. Ada mesin ketik disana. Bapak dulu juga punya alat yang sama yang selalu ia simpan dibawah ranjangnya. Tembok ruang tamunya dipenuhi coretan-coretan tangan dengan font yang berbeda-beda. Detik bilang itu tulisan bapaknya, tulisan petani yang hilang saat hendak pergi menangkap ikan, tulisan presiden, bahkan tulisan veteran penghuni rumahku sebelumnya.

Aku mencari tulisan tangan yang sama seperti surat yang diberikan Detik tadi pagi. Ada, sebuah surat yang ditulis tiga tahun silam. Detik bilang itu untuk seorang gadis, pacar pertamanya yang bunuh diri setelah ditinggal bapaknya mati untuk selama-lamanya, anak dari nelayan yang hilang di lautan. Surat itu tak akan pernah sampai, ada luka sebesar milikku dalam setiap sajaknya. Luka-luka yang ditinggalkan Bapak dan Emak. Detik memeluk luka yang sama.

Semenjak hari itu, aku dan Detik sering berkirim surat. Detik akan mengantarkannya pagi-pagi buta ke rumahku, dan aku akan membalas suratnya dengan mengirim langsung ke kantornya di siang hari. Detik memberiku sebuah sepeda yang ia temukan di pasar loak, ia juga membantuku mencari pekerjaan. Detik menawariku bekerja dikantornya, ia akan memberikanku tiga jam dari waktunya dalam sehari sebagai gajinya. Aku hanya tertawa.

Di kota ini, kau tak akan mendapatkan gaji. Berita baiknya, kau bahkan tak perlu membayar untuk apapun yang ingin kau miliki. Separuh penduduknya hanya perlu dibayar dengan senyuman tiap kali kau meminta beras atau buku-buku untuk dibaca. Separuh sisanya sama sekali tak acuh biarpun kau mengambil buah-buahan dagangan mereka. Mereka bekerja untuk membunuh waktu, untuk menjauhi jenuh seperti yang tetua-tetua mereka suruh. Detik memilih menjadi pengantar surat, aku memilih menjadi seorang teman.

Pekerjaan itulah yang kupilih pada akhirnya. Di kota besar, mereka akan menyebutnya psikolog atau pendamping konseling atau apalah itu. Di sini kami menyebutnya teman. Aku akan pergi di pagi hari dengan sepeda pemberian Detik, lalu mulai menyapa semua orang. Sebagian akan memanggilku, memberiku setumpuk baju lalu mulai bercerita tentang kerinduan mereka akan anaknya yang telah tiada, sebagian akan meminta pelukan dan mulai membasahi kerah bajuku dengan ingus mereka, sebagian lain memintaku untuk menceritakan kondisi kota besar.

Aku tak pernah pergi ke kota besar. Tapi Abang dulunya adalah buruh bangunan di kota besar. Abang seringkali pulang dengan lebam-lebam di wajahnya. Aku tau preman-preman kota besar pastilah menghajarnya. Banyak yang telah dibagikan abang untuk adik-adiknya, cerita-cerita tentang pahit manisnya kota besar, juga tentang cintanya pada anak gadis mandornya.

Pelanggan nomer satuku adalah Detik. Ia menyewaku hampir 8 jam sehari. Ia akan bercerita tentang kedua orang tua khayalannya – Detik yatim piatu sejak lahir , kemudian topik akan beralih pada kenapa ia memilih pekerjaan pengantar surat untuk membunuh waktunya, lalu kemudian ia akan membiarkanku menceritakan tentang diriku sendiri di sisa waktu yang ia sewa.

Disuatu hari, Detik hanya menyewaku selama 4 jam. Ia mengatakan bahwa malam itu, sebuah kesedihan akan datang. Seorang wanita akan melahirkan bayinya secara prematur. Dukun bayi yang dibayar dengan ucapan terima kasih telah mengatakan bahwa pukul delapan malam, wanita tersebut akan memiliki seorang anak. Tetua-tetua sedang mengadakan rapat untuk menjaga keseimbangan kota.

Hari itu, seseorang perlu mati untuk menjaga penduduk kota tetap seratus jiwa. Di saat-saat seperti ini, tak satupun dari kami diijinkan bersenang-senang. Kami perlu berduka, kelahiran di angka 99 selalu meninggalkan luka bagi penduduk di kota ini. Telah diputuskan bahwa bapak dari anak yang akan dilahirkan itulah yang harus mati, ia akan berlayar dari pinggir kota, dan entah apa yang menunggunya di tengah lautan sana. Laki-laki itu tak akan kembali,

Semenjak kejadian itu, aku sering memikirkan kata Emak ketika aku kecil. Larangannya untuk menceritakan tentang kota ini pada siapapun mungkin bukan tanpa dasar. Kota ini memang dipenuhi kehangatan seperti matahari yang baru muncul dari garis horizon. Tapi sumpah tetua-tetua sebelumnya – yang Emak sebut dukun – terlalu menyakitkan untuk menjadi bahan pembicaraan antar kawan.

Satu tahun kemudian, aku menikah dengan Detik. Tanpa penghulu, tanpa wali, tanpa mas kawin seperti yang dilakukan di kampungku dulu, atau di film-film produksi kota besar. Detik memintaku tinggal di studio miliknya. Saat itu teman kantornya telah pergi karena penyakit jantungnya yang ia bawa sejak peristiwa itu. Di malam pertama kami, Detik mengatakan bahwa itu bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Aku tak kaget sama sekali, aku mencintai detik tanpa rasa cemburu akan masa lalunya. Detik menciumiku selama dua puluh tiga kali.

Aku berhenti menjadi seorang teman. Detik yang ternyata seorang pencemburu berat tak kuasa melihatku memeluk banyak orang. Ia ingin aku menjadi miliknya seorang. Aku beralih menjadi penjaga perpustakaan. Letaknya tak jauh dari ruko kami. Perpustakaan yang sepi, sehari hanya bisa kutemu dua hingga tiga orang pengunjung, kadang sama sekali kosong. Detik akan datang pukul 4 sore, setiap harinya. Kami bercumbu di lorong yang sepi hingga buku-bukunya berantakan dan membuat kami tertawa tergeli-geli.

Dihari ulang tahunku, dihari yang akan aku ingat seumur hidupku, Detik membawaku ke batas kota. Aku baru menyadari keberadaan palang bertuliskan “Selamat Datang di Kota”, mereka tak memberikan nama kota pada daerah ini. Dulu aku, dan tujuh orang lainnya berjalan kaki melalui palang ini. Terlalu lelah dan patah hati untuk menyadari tulisan yang tercetak diatasnya. Kini aku melihat dengan jelas, jalan setapak yang dulu menjadi satu-satunya harapan kami yang tersisa dari peristiwa itu.

Detik mengajakku keluar dari kota itu. Menuju jalan setapak yang membawaku ke kampungku dulu. Rata, tak ada apapun disana. Pemerintah atau siapapun pasti telah membereskan apapun yang pernah terjadi disana. Sebuah penanda berada disana, kalimat pengklaim yang mengatakan bahwa tanah ini milik pemerintah juga berada disana. Aku hanya berdesis lemah. Detik memelukku erat.

Kami pulang ketika matahari terbenam. Perjalanan barusan jelas bukan tanpa harga. Presiden telah menunggu kami didepan palang, juga beberapa penduduk kota. Wajah mereka jelas nampak tak ramah. Meski kota ini lebih mirip daerah dengan aturan seperti hutan rimba, tapi ada satu hal yang tidak boleh dilanggar – mereka yang masuk tak boleh lagi keluar. Kami telah melanggar itu.

Detik mengucapkan maaf hingga berlutut didepan presiden. Aku hanya bediri tergugu tak tahu apa yang harus aku perbuat. Presiden yang awalnya berwajah masam berubah menjadi iba. Biasanya seseorang yang melanggar akan dikurung di sebuah pengasingan. Tapi malam ini, sama menyakitkannya seperti ketika aku meninggalkan kampungku dengan gontai paska peristiwa itu.

Seorang bayi telah lahir ketika kami meninggalkan kota ini. Saat itu, jumlah penduduknya genap seratus jiwa. Kami pergi dan membuat bayi yang telah dikandung ibunya selama sebelas bulan tersebut lahir. Kelahiran bayi itu menyisakan satu tempat saja pada kota tersebut. Aku dan Detik tak bisa kembali bersama-sama. Seorang dari kami harus menjadi yang terusir. Seorang dari kami harus menjadi nelayan yang berpura-pura tenggelam saat berlayar di laut.

Aku diam dan menatap Detik yang meraung-raung seperti anak serigala. Seluruh bayangan saat Bapak dan Emak terbakar didepan mataku bermunculan seperti sebuah layar tancap, juga Abang yang menyuruhku berlari sejauh mungkin menjauhi api yang menjilati tubuhnya. Aku mulai berdesis, dan menarik Detik agar ia berdiri, mendorongnya ke kumpulan penduduk, menggenapkan jumlah penduduk tersebut menjadi seratus jiwa lagi.

Para penduduk menarik Detik menjauhi batas kota. Mereka akan memasukkannya kedalam pengasingan, menyiksanya dalam kesendirian hingga ia mati karena kesepian yang teramat sangat. Suara tangisnya semakin menjadi sayup-sayup, membuatku menutup telinga erat-erat.

Malam itu aku berada di jalan setapak ini lagi. Luka-luka yang kukira telah mengering menjadi basah kembali. Sebasah saat Bapak melarangku menikahi Arman, kekasihku di kampung dulu. Sebasah ketika penduduk kampung menelanjangi Arman dan mencambuknya di balai bambu karena mengira kami akan kawin lari. Sebasah ketika aku melihat Arman mati di tangan Abangku sendiri. Luka-luka yang memaksaku menjadi gila dan memutuskan untuk menciptakan peristiwa itu.

Malam itu, aku pergi ke kota besar dengan perjalanan kaki selama 12 jam tanpa henti. Malam itu aku akan bertemu mereka lagi, preman-preman yang memukuli Abang semasa hidup. Malam itu, mereka mendapat misi yang sama, seperti dua tahun yang lalu, saat aku menatap wajah penduduk kampung ketakutan dan tanpa harapan. Malam itu, semuanya akan terulang kembali.

Advertisements
Cerpen yang Gagal: Kota Seratus Jiwa