Cerpen yang Gagal: Kota Seratus Jiwa

note : tulisan dibawah adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan untuk lomba pada tahun lalu namun tidak menang. daripada mengering di folder saya, ada baiknya saya post disini.

Kota Seratus Jiwa

Oleh : Almas Salsabil

Tak banyak yang mengenal kota ini, kota yang bahkan tidak akan bisa kau temukan meski berjam-jam mencarinya dengan kaca pembesar pada selembar kertas peta. Sebuah kota kecil dengan penduduk tak pernah lebih dari seratus jiwa. Setiap kali jumlahnya hendak melewati angka seratus karena sebuah proses kelahiran, seseorang pasti akan pergi. Entah itu keajaiban Tuhan atau magis yang disumpahkan oleh tetua-tetua yang menemukan kota ini.

Aku tidak tumbuh besar dari kota ini. Dua tahun yang lalu, sebuah kebakaran hebat membumi hanguskan kampungku. Satu-satunya kampung yang penduduknya tahu tentang keberadaan kota ini, kampung yang terletak tujuh jam perjalanan dari sini. Tak banyak yang selamat dari peristiwa itu. Tak banyak pula yang bisa kami duga sebagai penyebab kebakaran yang mengambil kedua orangtua dan tiga orang kakakku.

Ada sekitar delapan orang yang bertahan dari peristiwa itu. Kami berjalan kaki dan datang ke kota ini. Mereka menyebutnya kota, padahal jumlah penduduknya bahkan lebih sedikit dari kampung kami dulu. Saat itu penduduknya hanya 62 jiwa, kami datang dan menggenapinya menjadi 70 jiwa. Sejak saat itu, aku terputus dengan rumitnya rimba beton diluar sana.

Kota ini punya sistem sendiri. Dulu saat aku masih tinggal di kampung, para orang tua sering mengatakan bahwa kota ini dihuni dukun-dukun. Tak layak bagi kami untuk menceritakan tentang kota ini, baik antar penduduk kampung atau dengan orang-orang dari kota besar yang terkadang sering berkunjung ke kampung kami. Tapi mungkin itu hanya bualan orang tua yang lelah menjawab pertanyaan anak-anaknya. Nyatanya kota ini tak jauh bedanya dengan kampung kami, dengan orang-orang dari kota besar.

Dihari pertama kami datang, tak seorang pun menanyai siapa kami. Kabar soal kebakaran itu telah sampai di kota ini, entah dengan media apa. Kami tak punya rumah, tak ada nasi untuk dimakan, derita kami lengkap. Kami menyusuri kota ini hampir sembilan jam lamanya. Hingga seorang bapak dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya,  menyapa kami di depan sebuah rumah yang nampak lebih mewah dibanding dengan rumah-rumah lainnya.

Bapak ini, ia mengatakan bahwa ia adalah presiden kota ini. Kota yang langsung dipimpin oleh presiden, tanpa melalui walikota atau gubernur. Ia menawari kami pertolongan cuma-cuma, menyuruh kami menyimpan seluruh rasa curiga kami terlebih dahulu. Ia mempersilahkan kami masuk ke rumah mewah yang ternyata miliknya. Rumah ini mewah untuk ukuran kota ini, mungkin juga untuk ukuran kampung kami dulu, tapi mungkin hanyalah rumah milik pegawai kelas tiga jika dibandingkan dengan rumah-rumah di kota besar.

Singkat cerita ia mulai menginterogasi kami. Tak ada satu kalipun ia bertanya alasan kami datang kesini, ia mengatakan bahwa telah menjadi rahasia seluruh kota mengenai apa yang terjadi dengan kampung kami beberapa hari yang lalu. Bahkan media massa dari kota besar tak ada yang meliput kejadian itu, tak satupun pegawai yang dikirimkan pemerintah menjenguk kami paska kejadian. Tapi bapak yang mengaku presiden ini, dengan seluruh kotanya, tahu akan hal itu.

Interogasi yang ia lakukan berisi tentang siapa kami, apa yang kami lakukan di kampung kami dulu, dan apa yang ingin kami lakukan di kota ini. Tak lama kemudian, si bapak presiden mulai mengangguk-angguk lalu membiarkan kami pergi. Hanya nasi kepal yang dibungkus daun singkong yang ia berikan sebelum menyuruh kami keluar dari rumah mewahnya. Ia mengatakan bahwa kota ini punya banyak bangunan tak terpakai, sisa-sisa penjajahan yang belum dibereskan. Kami bisa menempati salah satunya. Tak ada surat tanah, tak akan ada pajak bumi bangunan, semua yang ada di kota ini adalah milik penduduknya.

Tiga bulan semenjak peristiwa itu, aku bertemu dengan Detik. Detik bekerja sebagai pengantar surat di kota ini. Surat-surat yang dikirim antar penduduknya sendiri. Mereka bilang ini satu-satunya cara untuk meniru gaya orang-orang di kota besar. Aku hanya mengiyakan saja saat mendengar mereka berkata demikian, orang-orang kota besar bahkan sudah meninggalkan sistem itu berpuluh tahun silam.

Detik mengingatkanku pada Abang pertamaku. Abang dulu adalah seorang pekerja keras, ia membiarkan kedua kakak perempuanku untuk menikah terlebih dahulu. Abang bilang ia perlu melihat adik-adiknya punya sandaran lain sebelum dirinya sendiri menjadi sandaran gadis yang akan menjadi istrinya. Detik juga seorang pekerja keras, meski di kota ini tak ada sistem uang atau jual beli. Detik bekerja atas dasar kegembiraannya akan ekspresi penerima surat yang seringkali riang tanpa alasan.

Hari ketika aku bertemu Detik untuk pertama kalinya, ia berada di depan rumahku. Rumah bekas seorang veteran yang mati tak lama sebelum aku datang ke kota ini. Detik memberiku sepucuk surat, dari dirinya sendiri. Aku termangu membaca nama pengirimnya. Lalu ia tertawa, mengatakan bagaimana bisa seorang di kota ini sama sekali tak pernah menerima surat. Tawa pertama yang aku dapatkan semenjak peristiwa itu.

Detik mengajakku ke kantornya. Kantor yang hanya berisi dia sendiri, dan seorang laki-laki yang selamat denganku dari kebakaran kampungku dulu. Kantor ini lebih mirip studio dengan sebuah kamar, sebuah ruang tamu serta sebuah pantry. Ada mesin ketik disana. Bapak dulu juga punya alat yang sama yang selalu ia simpan dibawah ranjangnya. Tembok ruang tamunya dipenuhi coretan-coretan tangan dengan font yang berbeda-beda. Detik bilang itu tulisan bapaknya, tulisan petani yang hilang saat hendak pergi menangkap ikan, tulisan presiden, bahkan tulisan veteran penghuni rumahku sebelumnya.

Aku mencari tulisan tangan yang sama seperti surat yang diberikan Detik tadi pagi. Ada, sebuah surat yang ditulis tiga tahun silam. Detik bilang itu untuk seorang gadis, pacar pertamanya yang bunuh diri setelah ditinggal bapaknya mati untuk selama-lamanya, anak dari nelayan yang hilang di lautan. Surat itu tak akan pernah sampai, ada luka sebesar milikku dalam setiap sajaknya. Luka-luka yang ditinggalkan Bapak dan Emak. Detik memeluk luka yang sama.

Semenjak hari itu, aku dan Detik sering berkirim surat. Detik akan mengantarkannya pagi-pagi buta ke rumahku, dan aku akan membalas suratnya dengan mengirim langsung ke kantornya di siang hari. Detik memberiku sebuah sepeda yang ia temukan di pasar loak, ia juga membantuku mencari pekerjaan. Detik menawariku bekerja dikantornya, ia akan memberikanku tiga jam dari waktunya dalam sehari sebagai gajinya. Aku hanya tertawa.

Di kota ini, kau tak akan mendapatkan gaji. Berita baiknya, kau bahkan tak perlu membayar untuk apapun yang ingin kau miliki. Separuh penduduknya hanya perlu dibayar dengan senyuman tiap kali kau meminta beras atau buku-buku untuk dibaca. Separuh sisanya sama sekali tak acuh biarpun kau mengambil buah-buahan dagangan mereka. Mereka bekerja untuk membunuh waktu, untuk menjauhi jenuh seperti yang tetua-tetua mereka suruh. Detik memilih menjadi pengantar surat, aku memilih menjadi seorang teman.

Pekerjaan itulah yang kupilih pada akhirnya. Di kota besar, mereka akan menyebutnya psikolog atau pendamping konseling atau apalah itu. Di sini kami menyebutnya teman. Aku akan pergi di pagi hari dengan sepeda pemberian Detik, lalu mulai menyapa semua orang. Sebagian akan memanggilku, memberiku setumpuk baju lalu mulai bercerita tentang kerinduan mereka akan anaknya yang telah tiada, sebagian akan meminta pelukan dan mulai membasahi kerah bajuku dengan ingus mereka, sebagian lain memintaku untuk menceritakan kondisi kota besar.

Aku tak pernah pergi ke kota besar. Tapi Abang dulunya adalah buruh bangunan di kota besar. Abang seringkali pulang dengan lebam-lebam di wajahnya. Aku tau preman-preman kota besar pastilah menghajarnya. Banyak yang telah dibagikan abang untuk adik-adiknya, cerita-cerita tentang pahit manisnya kota besar, juga tentang cintanya pada anak gadis mandornya.

Pelanggan nomer satuku adalah Detik. Ia menyewaku hampir 8 jam sehari. Ia akan bercerita tentang kedua orang tua khayalannya – Detik yatim piatu sejak lahir , kemudian topik akan beralih pada kenapa ia memilih pekerjaan pengantar surat untuk membunuh waktunya, lalu kemudian ia akan membiarkanku menceritakan tentang diriku sendiri di sisa waktu yang ia sewa.

Disuatu hari, Detik hanya menyewaku selama 4 jam. Ia mengatakan bahwa malam itu, sebuah kesedihan akan datang. Seorang wanita akan melahirkan bayinya secara prematur. Dukun bayi yang dibayar dengan ucapan terima kasih telah mengatakan bahwa pukul delapan malam, wanita tersebut akan memiliki seorang anak. Tetua-tetua sedang mengadakan rapat untuk menjaga keseimbangan kota.

Hari itu, seseorang perlu mati untuk menjaga penduduk kota tetap seratus jiwa. Di saat-saat seperti ini, tak satupun dari kami diijinkan bersenang-senang. Kami perlu berduka, kelahiran di angka 99 selalu meninggalkan luka bagi penduduk di kota ini. Telah diputuskan bahwa bapak dari anak yang akan dilahirkan itulah yang harus mati, ia akan berlayar dari pinggir kota, dan entah apa yang menunggunya di tengah lautan sana. Laki-laki itu tak akan kembali,

Semenjak kejadian itu, aku sering memikirkan kata Emak ketika aku kecil. Larangannya untuk menceritakan tentang kota ini pada siapapun mungkin bukan tanpa dasar. Kota ini memang dipenuhi kehangatan seperti matahari yang baru muncul dari garis horizon. Tapi sumpah tetua-tetua sebelumnya – yang Emak sebut dukun – terlalu menyakitkan untuk menjadi bahan pembicaraan antar kawan.

Satu tahun kemudian, aku menikah dengan Detik. Tanpa penghulu, tanpa wali, tanpa mas kawin seperti yang dilakukan di kampungku dulu, atau di film-film produksi kota besar. Detik memintaku tinggal di studio miliknya. Saat itu teman kantornya telah pergi karena penyakit jantungnya yang ia bawa sejak peristiwa itu. Di malam pertama kami, Detik mengatakan bahwa itu bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Aku tak kaget sama sekali, aku mencintai detik tanpa rasa cemburu akan masa lalunya. Detik menciumiku selama dua puluh tiga kali.

Aku berhenti menjadi seorang teman. Detik yang ternyata seorang pencemburu berat tak kuasa melihatku memeluk banyak orang. Ia ingin aku menjadi miliknya seorang. Aku beralih menjadi penjaga perpustakaan. Letaknya tak jauh dari ruko kami. Perpustakaan yang sepi, sehari hanya bisa kutemu dua hingga tiga orang pengunjung, kadang sama sekali kosong. Detik akan datang pukul 4 sore, setiap harinya. Kami bercumbu di lorong yang sepi hingga buku-bukunya berantakan dan membuat kami tertawa tergeli-geli.

Dihari ulang tahunku, dihari yang akan aku ingat seumur hidupku, Detik membawaku ke batas kota. Aku baru menyadari keberadaan palang bertuliskan “Selamat Datang di Kota”, mereka tak memberikan nama kota pada daerah ini. Dulu aku, dan tujuh orang lainnya berjalan kaki melalui palang ini. Terlalu lelah dan patah hati untuk menyadari tulisan yang tercetak diatasnya. Kini aku melihat dengan jelas, jalan setapak yang dulu menjadi satu-satunya harapan kami yang tersisa dari peristiwa itu.

Detik mengajakku keluar dari kota itu. Menuju jalan setapak yang membawaku ke kampungku dulu. Rata, tak ada apapun disana. Pemerintah atau siapapun pasti telah membereskan apapun yang pernah terjadi disana. Sebuah penanda berada disana, kalimat pengklaim yang mengatakan bahwa tanah ini milik pemerintah juga berada disana. Aku hanya berdesis lemah. Detik memelukku erat.

Kami pulang ketika matahari terbenam. Perjalanan barusan jelas bukan tanpa harga. Presiden telah menunggu kami didepan palang, juga beberapa penduduk kota. Wajah mereka jelas nampak tak ramah. Meski kota ini lebih mirip daerah dengan aturan seperti hutan rimba, tapi ada satu hal yang tidak boleh dilanggar – mereka yang masuk tak boleh lagi keluar. Kami telah melanggar itu.

Detik mengucapkan maaf hingga berlutut didepan presiden. Aku hanya bediri tergugu tak tahu apa yang harus aku perbuat. Presiden yang awalnya berwajah masam berubah menjadi iba. Biasanya seseorang yang melanggar akan dikurung di sebuah pengasingan. Tapi malam ini, sama menyakitkannya seperti ketika aku meninggalkan kampungku dengan gontai paska peristiwa itu.

Seorang bayi telah lahir ketika kami meninggalkan kota ini. Saat itu, jumlah penduduknya genap seratus jiwa. Kami pergi dan membuat bayi yang telah dikandung ibunya selama sebelas bulan tersebut lahir. Kelahiran bayi itu menyisakan satu tempat saja pada kota tersebut. Aku dan Detik tak bisa kembali bersama-sama. Seorang dari kami harus menjadi yang terusir. Seorang dari kami harus menjadi nelayan yang berpura-pura tenggelam saat berlayar di laut.

Aku diam dan menatap Detik yang meraung-raung seperti anak serigala. Seluruh bayangan saat Bapak dan Emak terbakar didepan mataku bermunculan seperti sebuah layar tancap, juga Abang yang menyuruhku berlari sejauh mungkin menjauhi api yang menjilati tubuhnya. Aku mulai berdesis, dan menarik Detik agar ia berdiri, mendorongnya ke kumpulan penduduk, menggenapkan jumlah penduduk tersebut menjadi seratus jiwa lagi.

Para penduduk menarik Detik menjauhi batas kota. Mereka akan memasukkannya kedalam pengasingan, menyiksanya dalam kesendirian hingga ia mati karena kesepian yang teramat sangat. Suara tangisnya semakin menjadi sayup-sayup, membuatku menutup telinga erat-erat.

Malam itu aku berada di jalan setapak ini lagi. Luka-luka yang kukira telah mengering menjadi basah kembali. Sebasah saat Bapak melarangku menikahi Arman, kekasihku di kampung dulu. Sebasah ketika penduduk kampung menelanjangi Arman dan mencambuknya di balai bambu karena mengira kami akan kawin lari. Sebasah ketika aku melihat Arman mati di tangan Abangku sendiri. Luka-luka yang memaksaku menjadi gila dan memutuskan untuk menciptakan peristiwa itu.

Malam itu, aku pergi ke kota besar dengan perjalanan kaki selama 12 jam tanpa henti. Malam itu aku akan bertemu mereka lagi, preman-preman yang memukuli Abang semasa hidup. Malam itu, mereka mendapat misi yang sama, seperti dua tahun yang lalu, saat aku menatap wajah penduduk kampung ketakutan dan tanpa harapan. Malam itu, semuanya akan terulang kembali.

Advertisements
Cerpen yang Gagal: Kota Seratus Jiwa

yang belum sempat kamu bereskan

pertama kali saya bertemu kamu, saya tidak menyangka perpisahan itu akan semenyakitkan ini. mereka bilang pasti akan sakit, hanya saya tidak begitu mengira akan seperti ini rasanya. saya seperti dipatahkan menjadi 7 bagian, dan masih belum cukup sampai disitu, kemudian tiap bagian itu digilas dengan truk troton. saya hilang.

kamu ingat alun alun kota tanggal 27 januari dua tahun lalu? disitu kamu bilang kamu mencintai saya lebih dari segala-galanya aksara yang bisa kamu tuliskan di mesin ketik kamu. saya percaya saja, saya tau rasanya jatuh cinta ya di hari itu. di hari kamu membuat jantung saya berhenti berdetak sepersekian detik dan lalu digantikan dengan debaran yang membuat saya takut kalau-kalau dada saya jebol.

saya masih ingat semuanya, juga tentang terong ungu yang kamu bawa untuk ibu saya. kamu bilang kamu kerumah saya hanya untuk mengantarakannya. nyatanya kamu menghabiskan 3 jam lebih 18 menit duduk di halaman depan rumah saya, menunggu saya mengusir kamu pulang.

lucu ya ? lucu mengingat betapa risihnya saya dulu ketika kamu berusaha mendekati saya. saya ingat betul betapa kesalnya saya saat kamu mengatakan rumah kamu searah dengan saya dan menawarkan boncengan pulang. saya tau rumah kamu tidak searah, saya tau betul. karena itulah, dulu saya menolak cara kamu yang kekanak-kanakan.

tapi toh pada akhirnya kamu yang menang. atau mungkin bisa dibilang saya juga menang. bukan begitu ? ketika dua manusia memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan bukankan keduanya tidak ada yang kalah. saya masih bisa melukiskan senyum malu-malu yang kamu tahan-tahan di hari saya setuju menjadi pasangan kamu. saya ingat kamu langsung balik badan saat itu. saya sempat ragu apa saya sudah memutuskan hal yang tepat.

saya ingin berhenti bernostalgia tentang semua itu, hanya saja kadang hal itu justru menggelitik hati saja, menjadikannya candu. jadi saya sering melakukannya, mengingat-ingat tentang kamu, menerka-nerka apa yang bisa saya perbaiki jika saya punya kesempatan sekali lagi. hahahah, sayangnya kesempatan saya sudah habis ya ?

saya tidak tau apakah kamu baik-baik saja ketika memutuskan untuk pergi. tapi saya kira kamu tidak terlalu mendapatkan masalah akan hal itu. kadang saya ingin menuangkan kopi di cangkir saya ke atas kepala saya. menyuruhnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri. tapi toh itu justru akan membuat kepala saya melepuh dan masih menyimpan seluruh kenangan itu.

apa saya sudah kalah ? menurutmu begitu ? mungkin memang begitu saya kira. sudah hampir setahun sejak kamu pergi dan tak sedikitpun pesan dari kamu menanyakan kabar saya. ah dulu setiap malam kamu pasti akan menelpon saya hanya untuk menanyakan apa yang sudah saya kerjakan seharian. hidup ini kadang berputar terlalu cepat, hanya saya yang tidak siap.

aah, saya jadi mengingat-ingat kamu lagi. manis betul melakukan aktivitas ini. saya penasaran jika saya yang meninggalkan kamu, apa menurutmu rasanya akan manis ketika kamu mengenang saya ? kata ibu saya, tak semua orang sekuat saya. jadi mungkin kamu justru akan menangis tersedu-sedu. hahaha, imajinasi saya sudah mulai kemana-mana rupanya, mana mungkin saya meninggalkan kamu.

saya berhenti di paragraf barusan, saya bingung harus melanjutkan keputus-asaan saya atau mengakhiri ini dengan mendoakan agar kamu bahagia. toh, rasa-rasanya saya juga akan tetap putus asa dan kamu sudah jelas bahagia.

hmm… apa kamu bahagia ? dua puluh empat jam lagi. dua puluh empat jam lagi saya akan menjadi orang paling putus asa di dunia. apa kamu – di belahan dunia yang kiranya tidak tahu dimana – sedang berbahagia ? apa hatimu berdebar, seperti ketika kamu mencium bibir saya pertama kali di depan rumah saya ? tentu, tentu pasti lebih dari itu rasanya.

jika saya bisa mengembalikan waktu… ahh, saya kira harapan itu akan membuat saya semakin terlihat buruk. tapi, jika saya bisa mengembalikan waktu, saya benar-benar akan membuang terong ungu yang kamu berikan kepada ibu saya dan melemparkannya tepat dimuka kamu. saya akan mengatakan bahwa saya tidak level pulang naik sepeda motor dengan kamu. saya juga akan mengatakan bahwa setan jomblo baru saja merasuki saya dan mengatakan bahwa saya tidak benar-benar menerima kamu ketika kamu tersenyum malu-malu saat itu. seharusnya saya lakukan saja semua itu.

tapi saya tidak bisa. sayangnya saya terlalu halus dalam menolak kamu dulu, membuat kamu semakin berusaha, dan membiarkan saya membuka hati untuk kamu, lalu dengan ketidakberdayaan, membuat saya melihat kamu pergi seperti kapas.

saya berhenti lagi. saya punya sejuta kata umpatan untuk kamu, juga kesedihan penuh rasa putus asa seperti kambing yang akan disembelih. tapi kamu bahkan tak akan membaca tulisan saya ini. sudahlah, biar saya selesaikan perasaan saya sendiri. perasaan yang kamu mulai tapi tidak kamu bereskan.

maaf saya kadang bisa sesinis itu ketika mengingat kamu. toh, saya dulu pernah mengangung-agungkan nama kamu dengan tulisan-tulisan yang berbeda. saya akan pergi dulu, sejauh yang saya bisa untuk mengindari kabar-kabar angin yang akan datang dalam hitungan dua puluh empat jam dari sekarang. saya bisa sekarat mendengarnya.

semoga pernikahan kamu lancar besok.

yang belum sempat kamu bereskan

gumpalan awan di atas kepala helianthe

helianthe, gadis yang kemarin sore tertawa terbahak-bahak disebelahku selepas lari pagi, aku tau ia memiliki seluruh keruwetan yang belum ia selesaikan. lebih-lebih, aku tau betapa tersiksanya ia untuk menahan diri tidak menceritakan segalanya padaku. ia pikir itu akan membuatku berhenti mengkawatirkannya, namun aku justru lebih mencemaskannya yang berpura-pura riang seperti itu.

helianthe seringkali mengeluhkan masalahnya padaku seolah-olah ia adalah ciptaan Tuhan yang menanggung beban paling banyak. hubunganku dengannya sedikit mendingin akhir-akhir ini, kurasa kekasihnya sedikit cemburu denganku.

helianthe tak menjauhiku terang-terangan, ia masih menyapaku dengan pukulah ringan dibahuku tiap ia mendahuluiku di lorong kampus. ia juga masih menjawab pesan singkatku yang kuharap dijawab dengan kejujurannya soal kondisinya belakangan. namun ia menutupinya layaknya seekor rubah. membuatku sedikit frustasi.

hari ini dan tiga hari yang lalu adalah libur panjang. membuatku tak memiliki alasan untuk menemuinya. kecemasanku semakin menjadi-jadi, jenis riang yang ia tinggalkan di benakku terakhir kali jelas bukan jenis riangnya yang biasa, helianthe tak seharusnya tertawa seperti itu.

satu-satunya yang bisa aku harapkan adalah supaya kekasihnya sekarang berada dirumahnya dan mendengarkan seluruh keluh kesahnya sebagaimana aku yang seringkali ia seret dengan iming-iming secangkir kopi untuk mendengarkan keluhan-keluhannya.

sungguh, jika helianthe menanyakan padaku apa aku bosan mendengarkan ia menceritakan hari-hari buruknya, maka jawabanku akan selalu sama – aku tidak bosan. bukan, bukan karena ceritanya menarik, tapi aku suka melihat wajahnya yang merengut. helianthe tentulah sangat cantik ketika ia tersenyum, tapi ia menyimpan wajah kesalnya hanya pada orang-orang terdekatnya. aku bersyukur ia memberikanku kesempatan itu.

dan sekarang, ketika ia seolah-olah menyembunyikan kotak masalahnya dariku, membuatku seolah dicampakkan begitu saja. aku mulai berpikir bahwa hal ini sedikit banyak menyangkut diriku. memikirkannya saja membuatku ingin terbang ke rumahnya detik ini juga, memaksanya menceritakan semuanya atau aku akan menggelitiki pinggangnya – sesuatu yang sangat sangat helianthe benci.

***

pukul 14.56

aku berada didepan rumah helianthe. mobil kekasihnya tidak tampak dari depan. kemungkinannya ada dua : kekasihnya sedang tidak ada dirumah, atau kekasihnya dan helianthe sendiri sedang tidak ada dirumah. semoga saja dugaan pertamaku yang tepat.

helianthe tinggal sendirian, kedua orang tua dan kakaknya tinggal di pulau seberang. rumah ini dulunya rumah bibinya yang kini memutuskan untuk pindah ke Jerman dengan suami bulenya. helianthe sering mengajakku menginap dirumahnya. dan hal yang sama juga ia lakukan pada kekasihnya. namun ia tak pernah membuat kami menginap pada saat yang bersamaan.

helianthe menggandakan kunci sebanyak lima buah. dua untuknya, sebab ia terlalu teledor untuk memiliki satu kunci, satu untukku, satu untuk kekasihnya dan satu untuk sepupunya yang seringkali mengecek dan mengiriminya makanan-makanan beku untuk ia masak.

aku membuka pagar dan pintu rumahnya yang berwarna coklat muda. ia disana, helianthe ada disana, gadis yang membuatku tak bisa tidur beberapa malam ini ada disana, duduk dengan piyamanya yang seolah-olah belum ia lepas dari tubuhnya sejak tiga hari yang lalu. gumpalan awan gelap seolah melingkupi kepalanya seperti bando yang melekat erat.

helianthe layaknya anjing pudel kusut yang kau temukan didalam sampah setelah ditinggalkan pemiliknya. sesuatu tentang penampilannya membuatku kehilangan akal hingga menariknya berdiri dari posisi duduknya dan memeluknya – sesuatu yang tak pernah aku lakukan. helianthe tidak tampak terkejut, seolah-olah tak punya tenaga untuk terkejut.

aku mendengarnya terisak dibalik punggungku. sesuatu, seseorang atau apapun itu telah menyakiti helianthe-ku yang periang, telah mengambil senyum terbaik yang selalu ia bagikan untuk sekitarnya, bahkan telah mengambil seluruh kata-katanya hingga ia tak mampu mengeluh sedikitpun dihadapanku.

***

pukul 18.32

helianthe tertidur di sofa tempat aku menemukannya tadi sore. ia menangis selama hampir dua jam tanpa henti, kemudian meminum teh hangat yang aku buatkan, lalu ia tertidur sebelum menjelaskan apapun padaku. aku duduk dibawah sofa dan berusaha membuat hipotesisku sendiri mengenai apapun yang terjadi selama empat jam terakhir ini. namun tak satupun yang membuatku yakin bahwa itulah alasan helianthe menangis seperti seekor anak anjing.

helianthe, aku mengenalnya empat tahun yang lalu dalam sebuah acara bakti sosial untuk pelajar. dua tahun berikutnya ia meneleponku malam-malam untuk mengatakan bahwa ia baru saja resmi berpacaran dengan kekasihnya yang sekarang. helianthe tidak biasanya menangis seperti tadi, ia seringkali menangis didepanku seperti saat kura-kuranya mati, atau saat laptopnya rusak atau bahkan saat ia harus presentasi di depan dosennya namun ia justru meninggalkan flashdisknya dirumah. tapi tak pernah sekalipun helianthe menangis dalam hening seperti tadi.

helianthe mulai membuka matanya, membuatku salah tingkah sebab aku tak begitu tau bagaimana cara menjelaskan mengapa aku memeluknya tadi sore. tapi sepertinya ia tak mempermasalahkan hal itu. matanya sembap. aku kira ia masih belum mau mengatakan hal apapun hingga ia mulai mengatakan sesuatu yang membuatku tersentak.

“aku akan menikah minggu depan”

lima kata yang langsung menyumbat seisi kerongkonganku, mengambil jutaan kalimat dikepalaku hingga aku tak memiliki satupun yang tersisa untuk kuucapkan padanya.

aku menunggu lanjutan dari ceritanya, namun ia nampak tak akan melakukannya. ia bahkan tak menatap mataku ketika mengatakan pengumuman yang seharusnya kuketahui lebih dulu.

aku mengumpulkan seluruh huruf demi huruf, aku mulai memikirkan untuk mengucapkan “selamat”, namun sepertinya itu bukanlah respon yang jujur dariku.

“lalu apa masalahnya ?”, kata-kata itu terlontar begitu saja, menjatuhkan penilaian seolah-olah aku menganggap bahwa baginya menikah minggu depan adalah sebuah masalah. dan aku benar-benar berharap bahwa itu merupakan masalah untuknya. sebab bagiku, itu tak hanya sekedar menyesakkan hati namun juga menghancurkannya menjadi potongan-potongan kecil seperti ketika ia mengumumkan bahwa ia mulai berkencan dengan seseorang dua tahun yang lalu.

helianthe mendongakkan kepalanya, menembuskan pandangannya ke mataku layaknya pedang yang mengiris-ngiris malamku yang beku. tatapan itu terasa menyakitkan dan hangat disaat yang bersamaan, membuatku ingin memeluknya sekali lagi.

helianthe meraih tanganku dengan kedua tangannya dan mulai membuka mulutnya, namun ia mengatupkannya kembali. hanya gelengan berkali-kali yang keluar setelahnya.

“jangan bilang kau mencintaiku ?”, gila…gilaaa…. aku tak menyangka kata-kata itulah yang justru keluar dari mulutku. memangnya aku siapa berani menanyakan hal bodoh seperti itu ? aku memejamkan mataku untuk menahan malu yang sedemikian hingga sebelum membukanya kembali untuk meluruskan maksud dari kata-kataku barusan. tapi helianthe mengangguk.

helianthe mengangguk. aku terlalu takut untuk menanyakan arti anggukannya. aku takut bahwa itu tak berarti seperti yang aku harapkan. aku takut ia akan pergi dan mengusirku setelah ini. namun kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibirnya membuatku ingin menghukum diriku sendiri.

“ya aku mencintaimu, dan aku akan menikah minggu depan”, dan ia mulai menangis lagi.

helianthe, gadis bunga matahari yang aku cintai diam-diam empat tahun belakangan, yang padanya tak pernah kuserukan keras-keras betapa aku ingin ia untuk meninggalkan kekasihnya, baru saja mengatakan bahwa ia juga mencintaiku. dan ia akan menikah dengan laki-laki lain dalam hitungan kurang dari tujuh hari.

awan gelap di atas kepala helianthe yang aku lihat sebulan belakangan, mulai berpindah keatas kepalaku, disertai hujan dan gemuruh yang tak akan pernah usai.

***

gumpalan awan di atas kepala helianthe

only know when….

inspired by passenger’s song

staring at the bottom of your glass. hoping one day, you’ll make a dream last

sudah berjam-jam sejak aku mendengar suara petir terakhir, yang tak begitu keras tapi hampir yakin bisa membangkitkan phobia adikku. masih dengan buku yang menceritakan tentang seorang ayah yang mencari anaknya sebab ia merasa anaknya diculik oleh seseorang yang mengidap gangguan kejiwaan. aku melihat jam di atas lemari kecil berisi buku buku yang sebagian ku dapatkan referensi darinya.

“aku akan sangat senang kau membeli setangkup buku, sebab aku suka melihat kau membaca. kakak ku bisa seperti kau tapi mungkin juga tak separah kau ketika menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. aku senang kau menghidupkan kakak ku dijemarimu ketika membalik halaman buku”, selalu begitu kata-katanya sebelum berselancar di internet, mencarikan referensi-referensi buku bagus yang sebaiknya ku baca.

dia sendiri tak begitu suka mebaca, satu-satunya yang ia suka adalah novel milik conan doyle, sherlock holmes. bukan karena apa-apa, ia hanya mencoba menyukai novel yang sering dibicarakan di komik favoritnya.

hampir subuh. aku meletakkan buku yang sejak satu jam yang lalu aku baca. memutuskan untuk meneguk teh ku yang hanya tinggal setengah teguk. lalu habis. aku benar-benar tak menyisakannya sedikitpun. lalu mataku menangkap tanda itu, tanda didasar cangkir yang baru kuhabiskan isinya, ukiran bertuliskan angka 19.

“19 untuk jumlah huruf dinamamu, 19 untuk tanggal lahirku. dan aku ingin kau penasaran dengan apa yang terjadi 19 bulan 19 hari sejak hari ini”, begitu katanya saat memberiku cangkir sebagai permintaan maaf karena memecahkan milikku sebelumnya.

entah sudah berapa puluh hari sejak sore itu. entah berapa hari lagi ketika seharusnya ia menyiapkan kejutan yang membuatku penasaran berbulan-bulan.

but dreams come slow and they go so fast

**

only need the light when it’s burning low

padam. lampu baca disebelahku tiba-tiba mati. mencoba mematinyalakan saklarnya namun sepertinya ada sambungan yang terputus terkena petir. hujan malam ini memang sungguh luar biasa.

ku buka lemari yang ada dibawah lampu bacaku, mencoba mendapatkan lilin dan pematik sebab aku belum mengantuk untuk berhenti membaca. ada satu pack lilin yang kurasa hanya pernah dipakai sebatang – dua batang. ohh, tapi sepertinya aku sedang sial, aku tak mendapatkan pematik yang kucari. sepertinya ia masih membawa pematik itu. mungkin masih dibawanya sejak ia meminjam untuk menyalakan rokoknya. sungguh, kenapa aku hanya mempunyai satu pematik seumur hidupku..

only miss the sun when it starts to snow

hujan sama sekali belum reda, dan tak berkurang sedikitpun kederasannya. aku benci keadaan dingin, gelap dan petir. maksudku, dingin saja atau gelap saja atau bahkan petir saja, bukan masalah bagiku. tapi kombinasi ketiganya membuatku mengangkat selimutku hingga ke leher.

aku melihat ke arah jendela yang entah sial atau beruntung berada tepat disamping tempat tidurku. belum ada tanda-tanda matahari akan terbit dalam setengah jam kedepan. mungkin awan tebal juga yang menutupinya. ini berarti aku tak bisa melanjutkan membaca bukuku hingga salah satu antara aliran listriknya kembali menyala atau matahari berhasil memenangkan awan tebal yang mengganggunya.

only know you’ve been high when you’re feeling low

tanpa sengaja aku menyenggol buku bacaanku dan membuatnya terjatuh. memaksaku untuk sedikit menurunkan selimut dan berusaha meraba-raba mencari bukuku yang jatuh. ah sepertinya aku sial lagi, buku itu jatuh dalam keadaan tertutup dan pembatasnya.. ah mungkin masuk kedalam kolong tempat tidur.

aku tak berminat sekali mencari pembatasnya dalam keadaan gelap seperti ini. mungkin memang benar katanya, untuk sebaiknya membongkar ranjang ini dan menurunkan kasurku ke lantai.

“kau tau, kau hampir berkali kali jatuh ke bawah tempat tidur saat kau demam”, katanya disebuah sore

“oh ya?, kurasa aku tak pernah bangun dan mendapati diriku ada di bawah tempat tidur” lalu aku terdiam, jelas aku tak pernah mencapai tempat itu, sebab ia mengatakannya, sebab ia tak akan membiarkan hal tersebut terjadi. lalu kami berdua tersenyum.

only hate the road when you’re missing home

“aku berharap bisa membawamu pulang ke tempat kau dilahirkan, yang kau ceritakan masih berudara segar namun banyak orang-orang kampung yang tak kau permasalahkan apapun dari mereka selain ketidakmampuan mereka mendengarkan cerita-cerita dari buku yang kau baca”, katanya dipuluhan hari yang lalu saat ia membantuku menata ulang ruang kerjaku.

“aku cukup bahagia disini. bukankah kau juga ?”

“tentu. aku hanya sedikit penasaran.”

“aku. entahlah, mungkin tempat ini rumahku. dan kau juga.”

detik ini aku menyadari, hendaknya rumah membuatmu hangat dan terpeluk saat berada didalamnya. mungkin hujan kali ini penyebabnya.

aku terlelap memikirkan kegelapan ini mungkin tak akan selesai dalam satu jam kedepan.

**

only know you love him when you let him go

“memangnya apa yang kau rencanakan untuk 19 bulan 19 hari setelah hari ini ?” tanyaku sambil memperhatikan ukiran yang ada didasar cangkir putih yang ia berikan.

“entahlah, aku juga belum merencanakan. apa kau menginginkan anak kucingku atau cincin lamaran?”, godanya, membuatku tersenyum membayangkan pilihan terakhirnya.

“sebaiknya kau melamarku, sebab jika seperti itu, secara tidak langsung anak kucingmu juga menjadi milikku”

“dasar, kau masih tetap saja. kau tau benar dalam membuat pilihan.”

“apa kau sedang memuji dirimu sendiri ?”, tanyaku, membuatnya tertawa, jelas ia memang memuji dirinya sendiri.

“bagaimana jika salah satu dari kita menyerah ? bagaimana jika tak pernah ada 19 bulan 19 hari untuk kita?”, tanyaku lagi ketika ia menyelesaikan tawanya. aku mulai mencemaskan hal yang tidak perlu. tapi nyatanya ia terdiam, dan semakin membuatku cemas.

“kita hanya tau saat salah satu dari kita benar-benar menyerah”, jawabnya pada akhirnya.

**

aku terbangun, dan mendapati lampu bacaku menyala, matahari juga sepertinya sudah bersinar cerah seolah hujan semalam hanya candaan. aku mematikan lampu bacaku, masih berupaya lepas dari mimpi yang menggangguku tiga hari ini.

aku meraih ponselku yang berdering. jenis dering untuk notifikasi perjanjian. penasaran sebab aku merasa sedang tak membuat janji dengan siapapun untuk seminggu ini, memaksaku membuka notifikasi yang muncul dilayar. “the date”. aku memandang tanggal yang menyertai notifikasi itu. 8 desember 2013. aku tersenyum, tentu saja aku memimpikan hal itu akhir akhir ini. tentu saja.

and you let him go.

only know when….