Mémoire: I Brought Troubles from 2017

Foto: Kodaline Fansite

Rasa-rasanya baru beberapa post yang lalu saya menulis tentang 2016 in a nutshell dan sekarang saya sedang berusaha menjelaskan tentang 2017.

Hari ini, angka belakang di kalender tahunan saya adalah 8 (maksudnya sudah tahun 2018 gitu). Sudah hampir setahun sejak terakhir kali saya menulis di blog ini. Kali ini, saya memang benar-benar sibuk. Tapi, mungkin saya lebih jarang mengeluh di platform-platform berbasis internet. Alasannnya sih, karena pengin membentuk internet persona. Biar orang tahunya saya seneng terus.

So, saya berencana menulis beberapa hal yang terjadi selama kurang lebih delapan bulan kebelakang di kehidupan saya. Iya, saya tahu tulisan ini toh yang baca juga saya lagi, saya lagi. Nggak papa sih kalau nggak ada yang baca sebab tulisan ini mungkin mengandung kata-kata sambat yang nggak cocok untuk internet persona saya.

Puncak Perjuangan: Wisuda!

Hahaha! Tahun 2017 kemarin akhirnya saya lulus dan meraih gelar sarjana. Well, emang nggak ada yang bilang sih kalau lulus kuliah itu bakal mudah. Masa-masa mengerjakan tugas akhir itu benar-benar…. gimana ya? Saya nggak tega jelasinnya.

Intinya, setelah setahun mengerjakan tugas akhir, saya pun berkesempatan memakai toga dengan wajah full make up. Saya masih ingat hari ketika saya wisuda, meski riasan saya hancur karena MUA yang murah (maaf dulu saya bokek), tapi asli, saya bahagia! Saya masih ingat gimana harus bangun pagi untuk make up. Saya juga ingat gimana happy-nya saya lihat teman-teman saya datang dan membawa bunga. Oh ya, pacar saya juga bawa bunga dari flanel, bunga matahari. Ehhhh… bukan bunga flanel yang sepuluh ribuan itu loh. Mahal pokoknya (now I’m trying to build my internet persona again)

For your additional information, topik tugas akhir saya adalah deteksi diabetes melalui android. Keren ya? Hahaha, padahal biasa aja!

Long Dusty Distance

Percaya nggak, tahun ini saya bakalan anniversary empat tahun sama pacar saya? Ehe, lama juga ya saya pacaran. Padahal, dulu paling lama pacaran cuma dua bulan. Nggak tahu juga sih kenapa yang ini bisa lama.

Menariknya, tahun 2018 ini, kami finally harus pacaran jarak jauh. Dulu, pacar saya tuh kerja sekantor sama saya. Saya kerja malam, dia kerja pagi. Meski LDR jam kantor, setidaknya itu lebih baik sih daripada sekarang yang beneran LDR. Well, pacar saya sekarang kerja di Jakarta. Awalnya rasanya kayak panik gitu mau LDR. Eh tapi biasa aja. Toh, doi rajin pulang dan saya juga punya kesibukan yang nggak bikin saya nganggur dan nungguin chat-nya.

Gitu sih. Biasa aja kok rasanya. Tapi ya gimana sih, namanya cewek, pingin juga saya buat di——-

Lamar.

Pindah Kantor Tapi….

Nggak pernah menyangka kalau in a short time banyak banget yang bakal berubah. Salah satunya kerjaan. Tahun 2017 kemaren, saya in charge jadi editor salah satu event di kantor yang lama. Event-nya emang cuma sepuluh hari tapi pusingnya berbulan-bulan. Mulai pulang subuh, pulang kantor dalam keadaan nangis, bangun tidur stres, lagi liburan insecure, udah jadi makanan sehari-hari. Bulan-bulan sampai November tahun lalu benar-benar super berat. Selain harus ngerjain event ini, bulan-bulan itu kan saya juga harus menyelesaikan tugas akhir.

Berat, sampai…

Sampai di akhir tahun terhembus banyak kabar tentang petinggi-petinggi di kantor saya. Long story short, atasan saya (yang mungkin juga orang dibalik nama besar kantor saya) memilih mundur dengan membawa beberapa anak perusahaan. Terjadilah banyak gejolak. Untungnya, saat itu pacar saya sudah pindah ke kantor lain di Jakarta. Doi nggak merasakan dampak ini. Tapi, saya iya.

Saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke anak perusahaan yang kini terpisah dengan kantor lama. Sempat jetlag beberapa minggu karena harus membiasakan jam kantor yang terbalik. Di kantor yang sekarang, saya harus kerja pagi. Alhasil, beberapa hari di awal, saya nggak bisa tidur sampai subuh dan harus bangun super pagi. Ngantuk.

Nah, di kantor yang sekarang kerjanya apa? Nggak banyak yang berubah kok. Saya tetap berkutat menjadi penulis. Bedanya cuma apa yang harus ditulis aja.

Big Loss for Big Heart

Di chapter terakhir ini, saya pengin membahas tentang sebuah kehilangan. Pelajaran baru untuk saya yang mulai kepala dua. Bukan tentang cinta ala cabai-cabaian tentunya.

Tapi mungkin nggak saat ini saya ceritakan.

Akan saya tulis di post selanjutnya.

Advertisements
Mémoire: I Brought Troubles from 2017

Twitter Saya Mati

Capture
sedih…

Wah, jaman twitter emang mengesankan ya. Dulu saya sering bales-balesan mention sama pacar saya di twitter. Dulu dia juga pernah bilang:

”Aku nulis nama kamu di bio ya?”

”Ya terserah, aku sih nggak mau nulis nama kamu,” jawabku.

Iya meski cukup cerewet dan alay di jamannya, saya nggak mau nulis nama orang di bio. Soalnya, dulu sama Rizan, mantan saya, saya pernah nulis ”debra” di bio. Sementara Rizan menulis ”ian”. Siapa Debra dan Ian?

Kalau kata Rizan, mereka berdua itu sepasang kekasih yang berhasil bikin Debian (akronim dari debra dan ian). Debian itu kayak salah satu jenis linux. Linux itu apa? Halah, mboh, browsingo dewe.

Ya pokoknya, twitter itu banyak kenangannya gitu. Seinget saya, jumlah tweet saya hampir 30ribu lebih saat itu.

Tapi…

Beberapa saat lalu teman saya kantor iseng mencari tahu tentang Rizan di tweet saya. Dia mau tahu gimana drama saya dulu. Saking malunya dan takut ketahuan, saya deactive twitter saya. Beberapa saat lalu, saya mau aktifin lagi, eh nggak bisa dong. Saya coba ‘Forgot Password’ dan memasukkan username lama saya, katanya username tersebut nggak terdaftar.

Oke saya sedih, akun twitter saya, tweet-tweet nggak penting saya, tweet yang saya favoritkan, semuanya hilang.

Terus akhirnya saya bikin lagi deh akun twitter dengan username yang sama. Sedih, nggak punya followers. Hehehe, sedihnya sih gara-gara kenangannya jadi hilang. Tapi nggak papa deh, jejak saya sama Rizan jadi kehapus. Kecuali kamu mau buka twitternya Rizan, ya lain ceritanya kalau gitu.

Emang post ini nggak penting sih. Saya harusnya mengerjakan tugas akhir. Tapi, asli, saya males hari ini. Ya udah. Dadah, siapapun kamu yang terlalu nganggur sampai baca post ini.

Twitter Saya Mati

see you soon, little star

“jangan pergi”, katanya. untuk keseribu kalinya hari ini. kemudian diikuti senyum kecil yang membuat semestaku menginginkannya lebih dari seharusnya. aku juga tidak ingin pergi. tidak hari ini ataupun besok. aku ingin duduk mendengarkannya bercerita dan mengomel soal harinya yang buruk.

tapi aku tetap akan pergi.

ia tahu aku akan kembali. tidak butuh waktu lama jika ia benar-benar menungguku. sayangnya, aku ragu, hatinya akan tetap sama saat aku kembali. dan hal itu akan menggangguku selama kepergian singkatku.

lalu ia mulai memainkan jari-jariku. melepaskannya. lalu mengambilnya kembali. persis seperti bagaimana ia memperlakukanku. yang seharusnya membuatku sakit tapi nyatanya justru menggembirakan hati kecilku yang naif.

aku menginginkannya. seutuhnya. bukan sekedar separuh atau seperempatnya.  ia tahu itu. ia tahu benar apa yang aku inginkan. ia hanya tidak punya kuasa untuk merangkai kata demi menyenangkan hatiku. satu-satunya yang ia lakukan adalah menarik bibir kecilnya, membentuk senyum simpul yang selalu berhasil membuatku berharap lebih.

aku mengulur-ulur waktu. aku harus pergi beberapa saat lagi. aku tahu ia juga mengulur-ulur waktu. tangannya berganti menarik-narik lengan kemejaku. tanpa kata. juga tanpa rengekan lagi. ia lelah memaksaku. meski dalam hatiku, aku berharap ia masih memaksaku, memungkinkan jalan bagiku untuk berubah pikiran.

seandainya ia memintaku tetap tinggal sekali lagi, mungkin aku akan berusaha.

sayangnya mulutnya tetap bungkam. sama seperti senyum kecilnya, kesunyian yang ia keluarkan juga sama sakitnya. maka aku putuskan untuk melepaskan tangannya dari kemejaku. aku mengembalikan senyum yang ia berikan. berharap tidak mengembalikan rasa sakit yang sama untuknya.

matanya adalah satu-satunya yang aku hindari. disana, aku tahu ia berusaha keras tidak membanjirkan perasaannya. demi itu, aku hanya mampu mengecup ringan bibirnya yang masih ingin menahanku.

ia pulang malam ini, dengan langkah lemas. namun senyum menyakitkan itu tetap menempel disana. ia siap menyambut kekasihnya yang sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu. ia mungkin akan berpura-pura bahagia lagi. sampai jumpa, bintang kecil.

see you soon, little star

stressed out ??

joker

it’s not gonna kill me, it’s just gonna hurt me. really. really bad.

wow kalau pacar saya ada 10, maka semuanya bisa mendengar saya “sambat” dengan ocehan yang sama tiap harinya. untungnya pacar saya yang cuma satu itu sanggup mendengarkan beban 10 orang sekaligus.

duh, dan duh-duh lainnya yang membuat saya ingin berhenti, resign, atau sebagainya. tapi toh, saya tetap menulis naskah dengan rajin meski kadang lewat deadline barang 1 jam – 2 jam. tapi saya tetap capek. bukan cuma gara-gara pekerjaan, tapi juga karena tugas akhir kuliah udah benar-benar didepan mata.

nggak nyangka ya, baru proposal aja saya udah njelimet setengah mati. apalagi masuk proses penggarapan. wow, saya bisa kehilangan sisi manusia saya kali ya. oke lebay. saya cuma kurang piknik kok.

anyway, saya barusan sidang. wkwkwk. sidang proposal sih. tapi deg-degan banget, takut gak bisa jawab. hasilnya ??? ya tentu saya gak bisa jawab dong, makanya revisian saya banyak, dan makanya saya sekarang bikin post ngeluh-ngeluh gini.

aslinya saya berniat nulis sesuatu semacam “things i never thought i can do, but i did”. semacam self motivation gitu loh. yaudah, ini deh list-nya (nggak penting juga sih buat kalian baca. haha).

1. i thought i cant recover my self from accident scars (but i did it)

*bener nggak sih grammarnya ?

yap, sudah pasti yang pertama adalah cerita tentang kecelakaan saya. wow, semua orang boleh bosan dengan cerita ini tapi saya nggak bosen tuh buat nyeritainnya. kecelakaan 3 kali loh (sebenernya 4 kali sih), gimana nggak bangga ?

kecelakaan pertama pas jaman smp, baret-baret doang sih. besoknya putus sama mantan eh langsung sembuh (emang gak nyambung). kecelakaan kedua, wah ini karena pergelangan tangan sampe luka basah jadi saya nggak bisa buang air besar beberapa saat. bingung bersihinnya gimana. hmm

kecelakaan ketiga paling parah. hilang gigi 5. iya cuma itu doang yang parah. but guys, i’ve never seen dentist for years bcoz gigi saya beneran rata dan nggak pernah bermasalah. and accidentally, saya nyosor aspal. nggak cuma ilang gigi 5, gigi saya kebentur kearah dalem sehingga susunannya hancur. saya operasi hampir 6 jam dengan mulut terbuka. lebih garing dari hubungan bertahun-tahunmu sama si mantan.

saya dulu kehilangan semangat. kesannya berlebihan ya ? tapi emang bener kok. tiap bangun tidur, saya nangis. mikir kok ya goblok banget nyetir pakai tangan satu sampai kecelakaan separah itu. tiap minggu, saya harus ijin kuliah buat kontrol gigi, saya nggak bisa senyum karena gigi saya beneran jelek kayak monster. that was the point i’d better disappear as a human. pernah kepikiran buat tinggal di bulan aja dan nggak usah ketemu orang lain.

but i did it. sekarang bahkan udah berani senyum pakai gigi walaupun bentuknya berantakan.

2. i thought i got the worst broken heart things (but i did it)

ini lebay jadi nggak usah panjang-panjang. intinya dulu waktu putus sama mantan sebelum yang sekarang itu rasanya kayak asfjhsdjgksghksfdfjkldghkdng. kampret banget lah. sampai acara nggak makan 2 mingguan (not literally sih).

but i did it. akhirnya ya move on juga. udah jalan 2 tahun malah. si mantan malah gonta-ganti pacar mulu bikin miris. (cc : mantan)

3. i thought i cant work on DBL sambil kuliah (but i did it)

*kalau nggak tau DBL, klik disini

jadi dulu pernah bilang ya “pokoknya kalau ke plot DBL, bakalan resign”. halah kodok, nggak resign-resign sampai sekarang. kuliah juga tetep jalan loh, meskipun sering cabut. tapi alhamdulillah ya nggak di DO kampus..

intinya sih, cabut kuliah itu harus dibayar sama nggak tidur pas ujian. kalau diterusin ini bisa riya’ seolah-olah saya rajin beneeeer dan pekerja keras. padahal ya doyan sambat.

4. i thought i cant do final project while deadline naskah makin gila-gilaan. but i (hope i) did it.

bismillah ya. kalau kata cerita-cerita yang saya lupa judulnya itu sih gini :

“tiap kali dapet kesedihan atau kesenangan selalu inget satu hal – ini juga bentar lagi kelar”

 

curt-this-too-will-pass001-copy

yakaliii, cepet kelar dong. kasian ini yang kena omel tiap kali saya suntuk sama deadline yang udah kaya tali kematian gitu. bismillah.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

 

stressed out ??