gumpalan awan di atas kepala helianthe

helianthe, gadis yang kemarin sore tertawa terbahak-bahak disebelahku selepas lari pagi, aku tau ia memiliki seluruh keruwetan yang belum ia selesaikan. lebih-lebih, aku tau betapa tersiksanya ia untuk menahan diri tidak menceritakan segalanya padaku. ia pikir itu akan membuatku berhenti mengkawatirkannya, namun aku justru lebih mencemaskannya yang berpura-pura riang seperti itu.

helianthe seringkali mengeluhkan masalahnya padaku seolah-olah ia adalah ciptaan Tuhan yang menanggung beban paling banyak. hubunganku dengannya sedikit mendingin akhir-akhir ini, kurasa kekasihnya sedikit cemburu denganku.

helianthe tak menjauhiku terang-terangan, ia masih menyapaku dengan pukulah ringan dibahuku tiap ia mendahuluiku di lorong kampus. ia juga masih menjawab pesan singkatku yang kuharap dijawab dengan kejujurannya soal kondisinya belakangan. namun ia menutupinya layaknya seekor rubah. membuatku sedikit frustasi.

hari ini dan tiga hari yang lalu adalah libur panjang. membuatku tak memiliki alasan untuk menemuinya. kecemasanku semakin menjadi-jadi, jenis riang yang ia tinggalkan di benakku terakhir kali jelas bukan jenis riangnya yang biasa, helianthe tak seharusnya tertawa seperti itu.

satu-satunya yang bisa aku harapkan adalah supaya kekasihnya sekarang berada dirumahnya dan mendengarkan seluruh keluh kesahnya sebagaimana aku yang seringkali ia seret dengan iming-iming secangkir kopi untuk mendengarkan keluhan-keluhannya.

sungguh, jika helianthe menanyakan padaku apa aku bosan mendengarkan ia menceritakan hari-hari buruknya, maka jawabanku akan selalu sama – aku tidak bosan. bukan, bukan karena ceritanya menarik, tapi aku suka melihat wajahnya yang merengut. helianthe tentulah sangat cantik ketika ia tersenyum, tapi ia menyimpan wajah kesalnya hanya pada orang-orang terdekatnya. aku bersyukur ia memberikanku kesempatan itu.

dan sekarang, ketika ia seolah-olah menyembunyikan kotak masalahnya dariku, membuatku seolah dicampakkan begitu saja. aku mulai berpikir bahwa hal ini sedikit banyak menyangkut diriku. memikirkannya saja membuatku ingin terbang ke rumahnya detik ini juga, memaksanya menceritakan semuanya atau aku akan menggelitiki pinggangnya – sesuatu yang sangat sangat helianthe benci.

***

pukul 14.56

aku berada didepan rumah helianthe. mobil kekasihnya tidak tampak dari depan. kemungkinannya ada dua : kekasihnya sedang tidak ada dirumah, atau kekasihnya dan helianthe sendiri sedang tidak ada dirumah. semoga saja dugaan pertamaku yang tepat.

helianthe tinggal sendirian, kedua orang tua dan kakaknya tinggal di pulau seberang. rumah ini dulunya rumah bibinya yang kini memutuskan untuk pindah ke Jerman dengan suami bulenya. helianthe sering mengajakku menginap dirumahnya. dan hal yang sama juga ia lakukan pada kekasihnya. namun ia tak pernah membuat kami menginap pada saat yang bersamaan.

helianthe menggandakan kunci sebanyak lima buah. dua untuknya, sebab ia terlalu teledor untuk memiliki satu kunci, satu untukku, satu untuk kekasihnya dan satu untuk sepupunya yang seringkali mengecek dan mengiriminya makanan-makanan beku untuk ia masak.

aku membuka pagar dan pintu rumahnya yang berwarna coklat muda. ia disana, helianthe ada disana, gadis yang membuatku tak bisa tidur beberapa malam ini ada disana, duduk dengan piyamanya yang seolah-olah belum ia lepas dari tubuhnya sejak tiga hari yang lalu. gumpalan awan gelap seolah melingkupi kepalanya seperti bando yang melekat erat.

helianthe layaknya anjing pudel kusut yang kau temukan didalam sampah setelah ditinggalkan pemiliknya. sesuatu tentang penampilannya membuatku kehilangan akal hingga menariknya berdiri dari posisi duduknya dan memeluknya – sesuatu yang tak pernah aku lakukan. helianthe tidak tampak terkejut, seolah-olah tak punya tenaga untuk terkejut.

aku mendengarnya terisak dibalik punggungku. sesuatu, seseorang atau apapun itu telah menyakiti helianthe-ku yang periang, telah mengambil senyum terbaik yang selalu ia bagikan untuk sekitarnya, bahkan telah mengambil seluruh kata-katanya hingga ia tak mampu mengeluh sedikitpun dihadapanku.

***

pukul 18.32

helianthe tertidur di sofa tempat aku menemukannya tadi sore. ia menangis selama hampir dua jam tanpa henti, kemudian meminum teh hangat yang aku buatkan, lalu ia tertidur sebelum menjelaskan apapun padaku. aku duduk dibawah sofa dan berusaha membuat hipotesisku sendiri mengenai apapun yang terjadi selama empat jam terakhir ini. namun tak satupun yang membuatku yakin bahwa itulah alasan helianthe menangis seperti seekor anak anjing.

helianthe, aku mengenalnya empat tahun yang lalu dalam sebuah acara bakti sosial untuk pelajar. dua tahun berikutnya ia meneleponku malam-malam untuk mengatakan bahwa ia baru saja resmi berpacaran dengan kekasihnya yang sekarang. helianthe tidak biasanya menangis seperti tadi, ia seringkali menangis didepanku seperti saat kura-kuranya mati, atau saat laptopnya rusak atau bahkan saat ia harus presentasi di depan dosennya namun ia justru meninggalkan flashdisknya dirumah. tapi tak pernah sekalipun helianthe menangis dalam hening seperti tadi.

helianthe mulai membuka matanya, membuatku salah tingkah sebab aku tak begitu tau bagaimana cara menjelaskan mengapa aku memeluknya tadi sore. tapi sepertinya ia tak mempermasalahkan hal itu. matanya sembap. aku kira ia masih belum mau mengatakan hal apapun hingga ia mulai mengatakan sesuatu yang membuatku tersentak.

“aku akan menikah minggu depan”

lima kata yang langsung menyumbat seisi kerongkonganku, mengambil jutaan kalimat dikepalaku hingga aku tak memiliki satupun yang tersisa untuk kuucapkan padanya.

aku menunggu lanjutan dari ceritanya, namun ia nampak tak akan melakukannya. ia bahkan tak menatap mataku ketika mengatakan pengumuman yang seharusnya kuketahui lebih dulu.

aku mengumpulkan seluruh huruf demi huruf, aku mulai memikirkan untuk mengucapkan “selamat”, namun sepertinya itu bukanlah respon yang jujur dariku.

“lalu apa masalahnya ?”, kata-kata itu terlontar begitu saja, menjatuhkan penilaian seolah-olah aku menganggap bahwa baginya menikah minggu depan adalah sebuah masalah. dan aku benar-benar berharap bahwa itu merupakan masalah untuknya. sebab bagiku, itu tak hanya sekedar menyesakkan hati namun juga menghancurkannya menjadi potongan-potongan kecil seperti ketika ia mengumumkan bahwa ia mulai berkencan dengan seseorang dua tahun yang lalu.

helianthe mendongakkan kepalanya, menembuskan pandangannya ke mataku layaknya pedang yang mengiris-ngiris malamku yang beku. tatapan itu terasa menyakitkan dan hangat disaat yang bersamaan, membuatku ingin memeluknya sekali lagi.

helianthe meraih tanganku dengan kedua tangannya dan mulai membuka mulutnya, namun ia mengatupkannya kembali. hanya gelengan berkali-kali yang keluar setelahnya.

“jangan bilang kau mencintaiku ?”, gila…gilaaa…. aku tak menyangka kata-kata itulah yang justru keluar dari mulutku. memangnya aku siapa berani menanyakan hal bodoh seperti itu ? aku memejamkan mataku untuk menahan malu yang sedemikian hingga sebelum membukanya kembali untuk meluruskan maksud dari kata-kataku barusan. tapi helianthe mengangguk.

helianthe mengangguk. aku terlalu takut untuk menanyakan arti anggukannya. aku takut bahwa itu tak berarti seperti yang aku harapkan. aku takut ia akan pergi dan mengusirku setelah ini. namun kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibirnya membuatku ingin menghukum diriku sendiri.

“ya aku mencintaimu, dan aku akan menikah minggu depan”, dan ia mulai menangis lagi.

helianthe, gadis bunga matahari yang aku cintai diam-diam empat tahun belakangan, yang padanya tak pernah kuserukan keras-keras betapa aku ingin ia untuk meninggalkan kekasihnya, baru saja mengatakan bahwa ia juga mencintaiku. dan ia akan menikah dengan laki-laki lain dalam hitungan kurang dari tujuh hari.

awan gelap di atas kepala helianthe yang aku lihat sebulan belakangan, mulai berpindah keatas kepalaku, disertai hujan dan gemuruh yang tak akan pernah usai.

***

gumpalan awan di atas kepala helianthe