sampai jumpa, ramadhan.

ramadhan tahun ini adalah ramadhan ke 20 saya, jika saya tak salah hitung. atau mungkin ramadhan ke 11 saya semenjak saya belajar untuk berpuasa sehari penuh, jika saya tak salah hitung juga. ibu saya bilang bahwa semakin tua umur kita maka ramadhan akan terasa semakin biasa saja. mungkin beliau ada benarnya, rasa haus dan lapar seperti tidak menghambat saya seperti ketika saya menjalani puasa di umur belia saya dulu.

ramadhan kali ini, saya menghabiskan tigaperempat waktu saya menjalani seluruh kerumitan di kampus, menyisakan satu minggu yang benar-benar saya hargai untuk menjalankan puasa di rumah bersama keluarga saya. saya kira saya akan mengeluh sebanyak 1000 kali, tapi mungkin saya hanya melakukan sebanyak 195 kali. sungguh tidak sebanyak yang saya kira. saya, bisa dibilang, sedikit menikmatinya.

dua saudara perempuan saya dinyatakan diterima di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, masing-masing diterima melalui jalur test. jika boleh menjelaskan sedikit, di kota saya, untuk sekolah menengah negeri terbagi menjadi 2, reguler dan kawasan. jalur reguler akan menggunakan seleksi nilai ujian nasional sebagai patokannya. sementara jalur kawasan memiliki komposisi 40 persen nilai ujian nasional, dan sisanya didapatkan dari hasil ujian tes potensi akademik. adik saya, keduanya, diterima melalui jalur yang terakhir, jalur yang mungkin bisa dikatakan bergengsi di kota saya. kami sekeluarga menangis terharu di pagi ketika hasil ujian mereka diumumkan.

saya menjalani beberapa kerumitan hati di bulan ini. sesuatu yang belum pernah saya ceritakan pada siapapun, tidak bahkan pada teman laki-laki terdekat saya. boleh dibilang saya ditumpahi rasa iri berlebihan yang tidak bisa saya tahan. teman-teman saya pergi mengikuti berbagai macam lomba dengan kapabilitas mereka masing-masing, dan saya hanya seorang mahasiswa yang duduk didepan laptop mengikuti permainan kurikulum. seorang mantan dari kekasih saya bekerja dan menghasilkan uang untuk dirinya sendiri, sementara saya justru tidak bisa menyisihkan uang jajan harian saya. sepupu terdekat saya, ia 8 bulan lebih tua daripada saya, akan menikah selepas lebaran. sementara saya, masih menjalani hubungan yang tidak direstui agama saya. hal-hal yang mungkin kamu anggap sederhana itu, membuat saya terjaga dibeberapa malam sambil memegangi dada saya.

ya, ramadhan kali ini saya genap satu tahun dengan kekasih saya. kami tak memiliki agenda spesial untuk merayakannya. saya melihat kedua orang tua saya berjalan melalui ulang tahun pernikahan mereka setiap tahun tanpa mengucapkan “selamat” pada masing-masing. jadi, saya menganggap perayaan-perayan semacam itu tidak begitu penting. saya sedikit senang, untuk pertama kalinya dalam 2 dekade hidup saya, saya bisa bertahan (sedikit agak) lama dengan seseorang. entah saya yang beruntung, atau dia yang beruntung.

terlepas dari semuanya, ramadhan kali ini memiliki semua warna dalam satu bulannya. saya benar-benar diajarkan untuk hidup dalam arti sesungguhnya. Allah memberi saya semua kesenangan dan kesulitan masing-masing dengan cuplikan dan porsi yang cukup. saya sedikit menyesal bulan ini berlalu begitu saja tanpa saya hadiahi sebuah ucapan terima kasih yang cukup. semoga Allah masih mengizinkan saya duduk semeja dengan keluarga dan orang-orang yang saya sayangi untuk berbuka di ramadhan berikutnya.

akhir kata, saya ucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. semoga di bulan syawal ini, hati kita disucikan kembali dan seluruh amal kita sebelumnya tetap menjadi sebuah rutinitas yang tidak hilang selepas ramadhan berlalu. aamiiin.

Advertisements
sampai jumpa, ramadhan.

ruang kecil

untuk dua puluh lima kepala dalam ruang kecilku.

suhu dingin khas pendingin ruangan belum cukup membuat sekumpulan manusia didalamnya diam dan menghentikan seluruh urusannya. kebanyakan berupa urusan canda tawa yang tak punya arah, sisanya hanya hening yang sangat tipis. di dalamnya terdapat dua puluh lima kepala dengan dua puluh lima gejolak hati masing-masing, pagi ini semuanya melebur layaknya kabut pagi yang menggelapkan seisi ruangan yang dikelilingi kaca tiap sudutnya itu.

aku meraba-raba pembicaraan laki-laki didepanku, setengahku tak tahan menoleh kebelakang melihat sebab tawa para anggota ruangan yang lain. tidak ada hari yang tidak begini. ruangan kecil ini akan selalu sibuk, tak peduli matahari bahkan hampir berhasil menyusup kedalam kabut di luar sana.

ruang kecil dengan dua puluh lima kepala, masing-masing memegang suara. kadangkali kujumpai sudut yang sedikit egois ingin agar kepala-kepala lainnya mendengar ucap katanya. lalu kujumpai sudut lain yang dengan tenangnya memberikan bagian itu, menjadi pendengar yang patuh.

jaket merah mudaku tak lagi sanggup menghangatkan permukaan kulitku dari dingin yang mulai menjadi-jadi, tidak bahkan dengan bantuan sinar mentari yang kini mulai menguasai seisi ruangan. tapi tak kulihat satu kepala pun terusik akan hal itu, mereka hangat dengan caranya masing-masing.

ada spasi pendek antara satu kaki dengan lainnya, memberi jarak yang cukup untuk diisi cerita, atau sekedar jejak. dan itu lah yang sesungguhnya sedang terjadi dalam ruangan ini. apapun, pembicaraan apapun yang sedang berlangsung antar kepala di ruangan ini, masing-masing akan meninggalkan jejak. jejak kecil, setipis kulit bayi yang akan dirindukan suatu hari nanti.

ruang kecil yang padat, seperti lalu lintas kota surabaya, namun ramah, seperti penduduk di dalamnya. dipeluk ruang kecil ini seolah membuat diriku ikut mengecil. sisi mini ku yang selalu merasa mampu melakukan segalanya sendiri seolah-olah runtuh di sini. ada tangan-tangan hangat namun tangguh yang siap menarik saat aku tertinggal, atau sekedar mendorong saat langkah kakiku melemah.

delapan belas bulan ruang kecil ini menjadi pagarku, yang menghangatkan kulit tengkukku yang kering. delapan belas bulan, dua puluh lima kepala tersebut mengisi spasi di antara kaki-kaki mereka. masih tersisa banyak waktu, sekian milyar detik lagi untuk memenuhinya dengan cerita-cerita yang akan dicetak di sana, masih cukup banyak hingga pada suatu titik nanti ruang kecil ini akan hilang.

ruang kecil ini bukan bangunan abadi. akan ada masanya, ia memaksa penghuninya untuk meninggalkannya, membuat kaki-kaki mereka yang dipenuhi cerita, melangkah pada jalur yang berbeda-beda. sebagian cerita itu akan hilang seiring rambut yang memutih, sebagian tetap tinggal berdifusi bersama helaan nafas masing-masing. tinggal kurangi detiknya saja.

ruang kecil