see you soon, little star

“jangan pergi”, katanya. untuk keseribu kalinya hari ini. kemudian diikuti senyum kecil yang membuat semestaku menginginkannya lebih dari seharusnya. aku juga tidak ingin pergi. tidak hari ini ataupun besok. aku ingin duduk mendengarkannya bercerita dan mengomel soal harinya yang buruk.

tapi aku tetap akan pergi.

ia tahu aku akan kembali. tidak butuh waktu lama jika ia benar-benar menungguku. sayangnya, aku ragu, hatinya akan tetap sama saat aku kembali. dan hal itu akan menggangguku selama kepergian singkatku.

lalu ia mulai memainkan jari-jariku. melepaskannya. lalu mengambilnya kembali. persis seperti bagaimana ia memperlakukanku. yang seharusnya membuatku sakit tapi nyatanya justru menggembirakan hati kecilku yang naif.

aku menginginkannya. seutuhnya. bukan sekedar separuh atau seperempatnya.  ia tahu itu. ia tahu benar apa yang aku inginkan. ia hanya tidak punya kuasa untuk merangkai kata demi menyenangkan hatiku. satu-satunya yang ia lakukan adalah menarik bibir kecilnya, membentuk senyum simpul yang selalu berhasil membuatku berharap lebih.

aku mengulur-ulur waktu. aku harus pergi beberapa saat lagi. aku tahu ia juga mengulur-ulur waktu. tangannya berganti menarik-narik lengan kemejaku. tanpa kata. juga tanpa rengekan lagi. ia lelah memaksaku. meski dalam hatiku, aku berharap ia masih memaksaku, memungkinkan jalan bagiku untuk berubah pikiran.

seandainya ia memintaku tetap tinggal sekali lagi, mungkin aku akan berusaha.

sayangnya mulutnya tetap bungkam. sama seperti senyum kecilnya, kesunyian yang ia keluarkan juga sama sakitnya. maka aku putuskan untuk melepaskan tangannya dari kemejaku. aku mengembalikan senyum yang ia berikan. berharap tidak mengembalikan rasa sakit yang sama untuknya.

matanya adalah satu-satunya yang aku hindari. disana, aku tahu ia berusaha keras tidak membanjirkan perasaannya. demi itu, aku hanya mampu mengecup ringan bibirnya yang masih ingin menahanku.

ia pulang malam ini, dengan langkah lemas. namun senyum menyakitkan itu tetap menempel disana. ia siap menyambut kekasihnya yang sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu. ia mungkin akan berpura-pura bahagia lagi. sampai jumpa, bintang kecil.

Advertisements
see you soon, little star

she has a guy

she has a guy.
i know it.
i know it all.
it doesn’t hurt me the way i think it would do. it’s just like the candy you got, had shits on it.
the thing is i can’t throw that candy.

six months ago, she moved here.
stiff. awkward. she had the whole words to say, she kept the mouth silent.
i broke the silence, i made a conversation, but the wall between us still unbreakable.
day by day, and it becomes months…
she started to smile,
she started to make a topic,
she started to laugh at my joke,
she started to look for me,
i started to like her.
but she was a black hole, and i didn’t have a strength to go against the gravity.

she has a guy.
i know it.

it happened.
and i don’t even know how it all began,
the worst thing is i don’t even know how to end it.
i don’t even want to end it all.
the way she talks or the way she walks,
the way she licks her lips to the the way she picks her trip,
the way she misses me in the broken night,
and sadly the way she kisses her guy the day after.

she has a guy.
i know it.
i know it all.
it doesn’t take all the pieces of me as all the quote on the internet said.
it gives me that pieces.
the thing is i can’t give her a return.
and she doesn’t even mind it.

i thought falling in love was a lot easier.
but seeing myself drowned into a hopeless well may be the easiest thing that i know.
i don’t try to reach the base.
i don’t try to help myself climb up the sky.
i let it take all over me,
controll it,
kill it,
smile at it.

she has a guy.
i know it.
i know it because she holds my hand, trembling
i know it because she deletes our conversation, doubtly
i know it because she kisses my lips, crying
i know it because she asked me to stay, meanly
i know it all.
but it doesn’t mean anything, anymore.

she has a guy