pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)

ahok

wah, akhirnya saya menulis tentang topik yang paling saya hindari – politik. nah, sebelum kamu ‘nggetu’ baca tulisan ini, saya jelaskan dulu kalau saya nggak punya ilmu politik. ilmu agama saya juga masih cetek. nggak punya ilmunya kok berani nulis? ya maap sob, toh di timeline kamu udah banyak yang kayak gini. so, chill and (try to) enjoy…

pertama, saya mau tekankan, kalau saya bukan warga jakarta. saya juga bukan fan atau hater ahok. jadi netral nih? hm, nggak tau juga sih, baca dulu deh…

kedua, kalau saya warga jakarta, saya juga nggak bakal pilih ahok. iya, saya juga nggak akan pilih anies. saya golput, sama seperti pemilihan presiden sebelumnya. bukan karena saya nggak paham program-program mereka, bukan juga karena saya skeptis sama kinerjanya, saya cuma takut menanggung dosa kalau seandainya pilihan saya nggak bisa tanggung jawab dengan janji-janjinya.

well, poin di atas mungkin bisa diserang dengan ideologi pemuda jaman sekarang yang mengatakan ”gimana mau ngerubah indonesia kalau warganya memutuskan golput dan nggak menunjuk pemimpin yang tepat?”. siapa yang mau merubah indonesia? terus, siapa pemimpin yang tepat? oh my dear, we don’t know yet.

so, balik lagi. baru-baru ini, ahok, gubernur jakarta (atau sekarang mantan gubernur jakarta) mendapatkan banyak sorotan. nggak main-main, berbagai media asing turut meramaikan profil satu ini. pertama, beliau yang saat jadi gubernur dikenal dengan pribadi yang keras namun kerja bersih, mencalonkan jadi calon gubernur jakarta periode berikutnya. sayangnya, secara mengejutkan, beliau kalah dan meninggalkan berjuta-juta kesedihan di dunia maya maupun nyata. kedua, yang terbaru, proses hukum yang menjeratnya atas nama agama, ‘berhasil’ menjatuhkannya hukuman selama dua tahun penjara.

cool.

kalau saya jadi ahok sih saya udah nangis. tapi ini ahok, saya yakin hati dan mentalnya sudah ditempa beribu baja hingga bisa sekuat sekarang.

jadi ini pendapat saya….

tanpa menghapuskan kenyataan bahwa saya warga sipil dan beragama islam, saya berusaha menyampaikan apa yang ada di pikiran saya. sedikit banyak, pendapat ini udah saya utarakan ke pacar saya saat makan di restoran cepat saji.

sebagai umat islam, iya saya menjunjung tinggi al-quran beserta isi dan terjemahannya. meskipun masih ada perdebatan tentang makna ‘awliya’ pada surat al maidah ayat 51, saya tetap nggak akan memilih pemimpin non muslim. alasan yang sama mungkin juga mendasari beberapa dari 57 persen lebih warga jakarta yang nggak memilih ahok.

”i choose A because i don’t like B”

yap, pretty much like that. btw, ini opini saya aja loh. ya menurut saya -yang bukan pakar politik-, beberapa yang milih anies didasari karena dia nggak suka ahok. as simple as that. nggak maksud suudzon sama yang milih anies juga sih.

oke lanjut. nah kalau saya sendiri gimana? seperti yang udah saya katakan sebelumnya, saya nggak bakal milih keduanya. saya tahu ahok kerjanya bagus, tapi beliau bertentangan dengan ajaran agama saya. sementara anies? insha allah, saya emang kurang tahu track record beliau kecuali menjadi korban dari reshuffle kabinet jokowi.

itu salah satu alasan kenapa saya nggak milih ahok (dan juga anies), tentunya selain alasan kalau saya bukan warga jakarta sih. hehehe. sekarang lanjut ke masalah yang menyeret ahok hingga timbul olokan ”salam dua tahun” tersebut.

sebagai muslim, saya tersinggung mendengar ahok membicarakan salah satu surat di al-quran seperti itu. saya udah dengar kok versi fullnya. kalau kamu masih bilang “makan sendok” dan “makan pakai sendok” itu beda, mungkin pendapat kita yang bertentangan. ahok nggak bilang “makan pakai sendok”. bukan seperti itu menganalogikannya. yang jelas, menurut saya beliau salah karena mengatakan kalau ada ‘lawan politiknya’ yang menjadikan surat ini sebagai senjata untuk menyerangnya. terlepas, ada kemungkinan, apa yang dikatakannya benar. tapi cara mengungkapkannya tetap salah.

sekali lagi, itu pendapat saya loh ya.

yang jadi masalah adalah, kemudian timbul beberapa aksi yang menuntuk ahok untuk diadili. oke, saya setuju. kalau seorang pemimpin bisa dengan seceroboh itu mengatakan hal yang menyinggung suatu kaum, menurut saya, ia pantas diadili. seorang muslim juga berkewajiban untuk stand against whoever yang ‘melecehkan’ agamanya. saya salut dengan aksi yang pertama. saya paham niat mereka baik.

lalu timbul dan lahir aksi-aksi serupa hampir setiap bulan saat ahok udah jelas-jelas meminta maaf. bahkan, proses hukum untuk beliau juga mulai dijalankan. aksi-aksi yang membawa banyak massa, dengan tujuan yang sama dari awal, agar ahok diadili.

pertanyaannya, jika beliau bukan ahok, apa aksi-aksi itu akan ada? jika yang mengatakan hal serupa adalah seorang warga sipil biasa yang nggak punya muatan politik, apa aksi itu bakal ada?

saya nggak berniat suudzon, tapi di lihat dari kacamata orang awam sekalipun, rasanya aneh. yang saya takutkan, niat awal ”membela agama” itu luntur. entah digantikan dengan apa…

sekarang, ahok harus bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkannya. bagi saya itu bukan kesedihan yang patuh diramai-ramaikan. iya, ahok emang salah dan beliau harus menanggungnya.

but he is a good guy….

i know, we all know, beliau emang orang baik. itu juga yang membuat ironi hingga muncul belasan meme berbunyi ‘give all to his country, imprisoned for 2 years’. dan yang lebih menyebalkannya lagi, banyak situs-situs yang harus menjadi korban hacker pendukung ahok, salah satunya website mantan sekolah sma saya (buat apa coba melakukan hal itu). nah, menurut saya: ya udah nggak papa, namanya orang yang salah ya dihukum. perkara dua tahun adalah rentang yang terlalu lama atau nggak, saya nggak punya ilmunya juga.

diam-diam, saya berharap, semoga beliau diberi hidayah yang membuatnya menerima hal ini. saya nggak tahu apakah ini termasuk hukuman atau cobaan bagi beliau. yang jelas, ahok nggak menerima vonis dua tahun tanpa sesuatu untuk dipelajari. entah apakah beliau akan keluar dan menjadi pemimpin hebat yang lebih berhati-hati dalam bertutur kata, atau entah bagaimana jalannya kedepan.

saya salut dengan ahok, tapi beliau tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukannya pada agama dan kitab suci saya.

saya juga berdoa, entah pendukung atau pembenci ahok, semoga nggak gelap hatinya hingga sebegitu banyaknya kata-kata benci bertebaran di timeline saya. ahok tetap manusia, dan sebaiknya sesama manusia nggak perlu berlebihan baik dalam menyukai maupun membenci.

 

surabaya, 11 mei 2017

Advertisements
pendapat saya soal kasus ahok (pendapat saya)