488

inspired by 500 days of summer movie and this wild life’s song – over it

day 488 : you always do what you want, don’t you ?

kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalaku selama beberapa malam ini. sebuah baris dari sebuah film yang sudah cukup lama booming. seminggu yang lalu seseorang mengirimkan itu padaku melalui sebuah pesan singkat. membuatku mengoreksi kesalahanku lebih dari 500 hari sebelumnya.

dijatuhkan sebuah penilaian yang kau tau benar itu menyakitkan. dan itulah yang kini mengusikku perlahan tiap kali aku hendak membalas pesan tersebut. sudah seminggu memang, tapi jari-jariku belum menemukan kata untuk membalasnya, aku tak tau harus merangkai kata-kata pembelaan atau pembenaran.

aku meninggalkannya 3 bulan silam, setelah puluhan bulan yang penuh ketidakpastian diantara kami. aku sendiri yang memberi ketidakpastian itu, dan aku juga yang melukainya. aku mengerti itu tak ada adil-adilnya sama sekali untuknya, tapi hati dan isinya itu diluar kendali manusia.

aku melihatnya disana, 3 bulan yang lalu, duduk dan masih bertanya-tanya dengan matanya, seolah ingin mengatakan “tolong ulangi sekali lagi kata-katamu”. tapi bibirnya terkunci rapat, air matanya juga tak ada setetespun. aku tau aku telah memberinya luka detik itu. ia bahkan tak ingin menaikkan egonya dengan menanyakan alasanku.

tiba-tiba aku teringat dengan sebait lagu milik this wild life, over it. lagu tentang perpisahan, yang dulu kunikmati musiknya, kini menjelma menjadi pemahamanku pada tiap barisnya. ia lah yang memaksaku untuk mendengarkan lagu ini 7 bulan yang lalu (aku bahkan masih menghafal tanggalnya), saat semua masih cukup baik-baik saja. ia mengatakan bahwa ia menyukai cambang dan janggut yang dimiliki penyanyinya, ia tak begitu suka dengan lagu-lagunya, tapi ia menyukai yang satu ini. maka aku dengarkan.

sungguh, apakah lagu dan takdir itu sebegitu dekatnya ?

i know i drag us both through hell, but i wish you forgive yourself

baris itu. kemudian otakku benar-benar memutar baris itu berkali-kali. mempertanyakan, betapa kejamnya baris itu. dulu aku tak benar-benar peduli. hingga kemudian aku merasa menjadi seseorang yang menulis lirik itu. secara implisit mengatakan bahwa aku tau seberapa besar luka yang aku berikan untuknya, hanya aku tak tau harus berbuat apa, maka aku memohon agar ia memaafkan dirinya sendiri.

memaafkan apanya ?

tiba-tiba menakutkanku sekali, untuk membayangkan ia memutar lagu ini dengan sumpah serapah yang mungkin hanya berputar-putar diujung mulutnya. aku tau benar, ia bukan orang yang akan membeberkan cacat orang, sekalipun hanya ada dirinya didalam ruangan.

i think i learn a lesson too, that i’m at my worst when i’m with you.

mungkin itu jawabannya. untuk seluruh keegoisanku yang tak termaafkan. sebuah baris yang mungkin juga melukaiku, mengingat betapa mudahnya aku menganggap bahwa itu yang terburuk untukku, tanpa memikirkan bahwa itu jauh lebih buruk untuknya selama puluhan bulan bersamaku.

aku tak bisa memikirkan apapun, ketika kudapati pesanku telah terkirim untuknya. pesan balasanku untuk pesannya seminggu yang lalu.

“day 488 : it just wasn’t me you’re right about”

sebuah keegoisan lain.

488

setelah 46 hari

inspired by 5 seconds of summer – amnesia

i drove by all the places we used to hang out getting wasted

pagi yang seharusnya cerah, tapi sayangnya tidak untuk hari ini. tidak setelah kata-kata yang ia lontarkan semalaman, “cewek bodoh”, katanya. ayahku bahkan tak pernah mengatakan hal seperti itu dengan intonasi selembut apapun. bukannya sakit hati atas kata-kata tersebut, aku justru menemukan diriku mengandarai sepeda motor kearah sebuah toko es krim. di suatu malam yang masih terhitung baik-baik saja, kami pernah bertengkar disana. aku menghentikan motorku sejenak, untuk sekedar menangis secukupnya. dan kemudian pergi, kali ini kudapati aku melewati sebuah tempat makan yang menjual pizza. disana disuatu siang yang terburu-buru, kami memiliki kencan pertama kami. kutelan air ludahku, terlampau lelah. dan tentu saja, tempat terakhir adalah tempat parkir kampusku. disanalah, di hari ke-8, ia memintaku menjadi kekasih juga pada hari pertama saat ia mengajakku berkenalan.

the picture that you sent me, they’re still living in my phone

mati-matian aku untuk tidak membuka galeri foto di ponselku, tidak mengscroll status-statusku di media sosial terlampau bawah , juga tidak membuka aplikasi sms dan chat message. disanalah aku pernah melukis bukti bahwa aku pernah dibahagiakan, juga diperlakukan dengan baik, meski lebih banyak diperlakukan dengan buruk. disanalah aku pernah dengan jelas-jelas mencintai setiap pagi dimana aku bangun dengan keadaan memilikinya. maka aku biarkan semua itu seperti sedia kala, karena menghapus seluruh kenangan itu memberikan rasa yang sama kosongnya dengan membuang semua bukti bahwa ia pernah ada, pernah ada sebagai milikku.

it hurts to know you’re happy, yeah it hurts that you’re moved on

mempalsukan ekspresi jelas bukan bidangku. tapi setidaknya aku masih ingin punya harga diri, entah tinggal seremah-remah apa kini harga diriku setelah aku memohon mohon padanya di malam itu untuk tidak menanggalkanku dengan hal sederhana yang harusnya bisa kami selesaikan baik-baik. tapi aku memerlukan ekspresi-ekspresi bahagia, setidaknya aku tak diizinkan untuk menangis saat ia disekitarku. maka aku berakting sepanjang hari, kaku, sebab aku diam-diam ingin meraung-raung ditanah memohon agar aku bisa diberi kesempatan untuk menjelaskan atau lebih tepatnya meminta penjelasan. tapi melihat ia berdiri disana, dengan batang rokok di sela-sela jarinya, dan tawa yang muncul atas candaan teman-temannya, aku tau bahwa aku salah. aku salah untuk terluka sendiri, salah untuk terluka karena orang yang salah.

if what we had was real, how could you be fine ?

dan pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. apakah selama ini ia melatih perannya untuk sebuah kontes yang entah bagaimana terlihat sangat nyata. benar bagiku, bahwa ia jarang sekali memperlakukanku dengan baik. kata-kata kasar yang bodohnya disanalah aku merasa ingin selalu pulang, yang kukira ia begitu karena demikianlah ia menunjukkan bahwa aku miliknya, bahwa ia menyayangiku. maka kini , batinku menyangsikan semua kebodohan kebodohan lampauku. benarkah ? benarkah kita pernah menjadi dua orang individu yang saling memiliki, yang diantara keduanya ada ketakutan diam diam untuk kehilangan satu sama lain ? mungkin hanya ilusiku, sebab ia nampak sangat baik-baik saja.

cause i’m not fine at all

pada akhirnya, aku mencapai kesimpulan bahwa entah bagaimana tapi aku tak sedang berilusi. ya, pernah ada di suatu massa sepanjang empat puluh enam hari, sebuah kisah tentang kami. hanya saja mungkin, porsi hati manusia tak akan pernah mencapai kata equal. mungkin milikku terlampau berat dari hari kehari. dan miliknya hanya berat diawal lalu menguap untuk sebab yang kini kuterka-terka sendiri. pada akhirnya, aku berada di posisi dimana milikku memenuhi seluruh timbangan dan miliknya hilang tak berbekas. kini bisa kurasakan, milikku pun mulai menguap untuk sebab yang ia buat. sebab aku tak baik-baik saja. sama sekali tak baik-baik saja.

setelah 46 hari

only know when….

inspired by passenger’s song

staring at the bottom of your glass. hoping one day, you’ll make a dream last

sudah berjam-jam sejak aku mendengar suara petir terakhir, yang tak begitu keras tapi hampir yakin bisa membangkitkan phobia adikku. masih dengan buku yang menceritakan tentang seorang ayah yang mencari anaknya sebab ia merasa anaknya diculik oleh seseorang yang mengidap gangguan kejiwaan. aku melihat jam di atas lemari kecil berisi buku buku yang sebagian ku dapatkan referensi darinya.

“aku akan sangat senang kau membeli setangkup buku, sebab aku suka melihat kau membaca. kakak ku bisa seperti kau tapi mungkin juga tak separah kau ketika menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. aku senang kau menghidupkan kakak ku dijemarimu ketika membalik halaman buku”, selalu begitu kata-katanya sebelum berselancar di internet, mencarikan referensi-referensi buku bagus yang sebaiknya ku baca.

dia sendiri tak begitu suka mebaca, satu-satunya yang ia suka adalah novel milik conan doyle, sherlock holmes. bukan karena apa-apa, ia hanya mencoba menyukai novel yang sering dibicarakan di komik favoritnya.

hampir subuh. aku meletakkan buku yang sejak satu jam yang lalu aku baca. memutuskan untuk meneguk teh ku yang hanya tinggal setengah teguk. lalu habis. aku benar-benar tak menyisakannya sedikitpun. lalu mataku menangkap tanda itu, tanda didasar cangkir yang baru kuhabiskan isinya, ukiran bertuliskan angka 19.

“19 untuk jumlah huruf dinamamu, 19 untuk tanggal lahirku. dan aku ingin kau penasaran dengan apa yang terjadi 19 bulan 19 hari sejak hari ini”, begitu katanya saat memberiku cangkir sebagai permintaan maaf karena memecahkan milikku sebelumnya.

entah sudah berapa puluh hari sejak sore itu. entah berapa hari lagi ketika seharusnya ia menyiapkan kejutan yang membuatku penasaran berbulan-bulan.

but dreams come slow and they go so fast

**

only need the light when it’s burning low

padam. lampu baca disebelahku tiba-tiba mati. mencoba mematinyalakan saklarnya namun sepertinya ada sambungan yang terputus terkena petir. hujan malam ini memang sungguh luar biasa.

ku buka lemari yang ada dibawah lampu bacaku, mencoba mendapatkan lilin dan pematik sebab aku belum mengantuk untuk berhenti membaca. ada satu pack lilin yang kurasa hanya pernah dipakai sebatang – dua batang. ohh, tapi sepertinya aku sedang sial, aku tak mendapatkan pematik yang kucari. sepertinya ia masih membawa pematik itu. mungkin masih dibawanya sejak ia meminjam untuk menyalakan rokoknya. sungguh, kenapa aku hanya mempunyai satu pematik seumur hidupku..

only miss the sun when it starts to snow

hujan sama sekali belum reda, dan tak berkurang sedikitpun kederasannya. aku benci keadaan dingin, gelap dan petir. maksudku, dingin saja atau gelap saja atau bahkan petir saja, bukan masalah bagiku. tapi kombinasi ketiganya membuatku mengangkat selimutku hingga ke leher.

aku melihat ke arah jendela yang entah sial atau beruntung berada tepat disamping tempat tidurku. belum ada tanda-tanda matahari akan terbit dalam setengah jam kedepan. mungkin awan tebal juga yang menutupinya. ini berarti aku tak bisa melanjutkan membaca bukuku hingga salah satu antara aliran listriknya kembali menyala atau matahari berhasil memenangkan awan tebal yang mengganggunya.

only know you’ve been high when you’re feeling low

tanpa sengaja aku menyenggol buku bacaanku dan membuatnya terjatuh. memaksaku untuk sedikit menurunkan selimut dan berusaha meraba-raba mencari bukuku yang jatuh. ah sepertinya aku sial lagi, buku itu jatuh dalam keadaan tertutup dan pembatasnya.. ah mungkin masuk kedalam kolong tempat tidur.

aku tak berminat sekali mencari pembatasnya dalam keadaan gelap seperti ini. mungkin memang benar katanya, untuk sebaiknya membongkar ranjang ini dan menurunkan kasurku ke lantai.

“kau tau, kau hampir berkali kali jatuh ke bawah tempat tidur saat kau demam”, katanya disebuah sore

“oh ya?, kurasa aku tak pernah bangun dan mendapati diriku ada di bawah tempat tidur” lalu aku terdiam, jelas aku tak pernah mencapai tempat itu, sebab ia mengatakannya, sebab ia tak akan membiarkan hal tersebut terjadi. lalu kami berdua tersenyum.

only hate the road when you’re missing home

“aku berharap bisa membawamu pulang ke tempat kau dilahirkan, yang kau ceritakan masih berudara segar namun banyak orang-orang kampung yang tak kau permasalahkan apapun dari mereka selain ketidakmampuan mereka mendengarkan cerita-cerita dari buku yang kau baca”, katanya dipuluhan hari yang lalu saat ia membantuku menata ulang ruang kerjaku.

“aku cukup bahagia disini. bukankah kau juga ?”

“tentu. aku hanya sedikit penasaran.”

“aku. entahlah, mungkin tempat ini rumahku. dan kau juga.”

detik ini aku menyadari, hendaknya rumah membuatmu hangat dan terpeluk saat berada didalamnya. mungkin hujan kali ini penyebabnya.

aku terlelap memikirkan kegelapan ini mungkin tak akan selesai dalam satu jam kedepan.

**

only know you love him when you let him go

“memangnya apa yang kau rencanakan untuk 19 bulan 19 hari setelah hari ini ?” tanyaku sambil memperhatikan ukiran yang ada didasar cangkir putih yang ia berikan.

“entahlah, aku juga belum merencanakan. apa kau menginginkan anak kucingku atau cincin lamaran?”, godanya, membuatku tersenyum membayangkan pilihan terakhirnya.

“sebaiknya kau melamarku, sebab jika seperti itu, secara tidak langsung anak kucingmu juga menjadi milikku”

“dasar, kau masih tetap saja. kau tau benar dalam membuat pilihan.”

“apa kau sedang memuji dirimu sendiri ?”, tanyaku, membuatnya tertawa, jelas ia memang memuji dirinya sendiri.

“bagaimana jika salah satu dari kita menyerah ? bagaimana jika tak pernah ada 19 bulan 19 hari untuk kita?”, tanyaku lagi ketika ia menyelesaikan tawanya. aku mulai mencemaskan hal yang tidak perlu. tapi nyatanya ia terdiam, dan semakin membuatku cemas.

“kita hanya tau saat salah satu dari kita benar-benar menyerah”, jawabnya pada akhirnya.

**

aku terbangun, dan mendapati lampu bacaku menyala, matahari juga sepertinya sudah bersinar cerah seolah hujan semalam hanya candaan. aku mematikan lampu bacaku, masih berupaya lepas dari mimpi yang menggangguku tiga hari ini.

aku meraih ponselku yang berdering. jenis dering untuk notifikasi perjanjian. penasaran sebab aku merasa sedang tak membuat janji dengan siapapun untuk seminggu ini, memaksaku membuka notifikasi yang muncul dilayar. “the date”. aku memandang tanggal yang menyertai notifikasi itu. 8 desember 2013. aku tersenyum, tentu saja aku memimpikan hal itu akhir akhir ini. tentu saja.

and you let him go.

only know when….