Mumblecore Story: Marriage

THE WATCHLEAST
Foto: THE WATCHLEAST

‘’Ya, prinsipku tetap gitu sih Bil,’’

Kepulan asap rokok langsung mengikuti ucapannya, bukan menjadi penutup perbincangan. Justru –sepertinya– memancing perdebatan lebih lanjut.

Saya menghela nafas sebentar sebelum menjawab:

‘’Saya udah tahu prinsip kamu sejak kamu masih di dalam kandungan,’’ jawab saya, udah terlalu malas untuk berdebat.

Gia menjentikkan rokoknya ke asbak. Kalau saja dia bukan sahabat saya, saya bakal pura-pura batuk supaya dia menyingkirkan batang mematikan tersebut.

‘’Udah deh Bil, kalau kamu ditanyain pertanyaan itu lagi, kamu jawab aja ‘’nunggu Gia ngelamar’’, tapi aku ngelamarnya nanti. Nanti kalau udah bisa belikan kamu rumah,’’

‘’Dan gincu,’’ lanjutnya.

Saya cuma bisa diam. Seperti biasanya, Gia adalah dominator dalam setiap pembicaraan. Nggak heran, Gia sering memanggil saya ‘submission’.

Saya tahu dia hanya bercanda.

Merasa tenggorokannya kering terkena asap, Gia mengecek isi cangkirnya. Kosong. Tanpa ijin, tangannya meraih botol air kemasan saya.

Saya nggak akan minum dari botol itu lagi. Bau rokok.

Gia berdiri dan berjalan ke arah kasir. Dia kembali dengan sebotol air mineral lain. Saya tahu air itu untuk saya.

Saya dan Gia bukan pecinta romantisme. Tidak ada kasus friendzone, adik-kakak zone, atau zone-zone apalah itu dalam kamus kami. Kalau saya suka Gia, saya sudah bilang sejak dulu. Kalau saya suka Gia, saya nggak bakal bisa tidur tenang setelah Gia mencium bibir saya di mobil waktu itu. Gia bilang, bibir saya hampir sama kayak rokok yang dikonsumsinya sehari-hari. Sederhananya, hambar.

‘’Tapi nagih loh, ya kayak rokok gitu,’’ ujarnya kala itu. Nggak ada satupun dari kami yang salah tingkah.

Gia adalah sahabat. Bukan kakak, bukan adik, bukan hal-hal romantis lainnya yang membuat kami lebih dari seorang sahabat.

Larut dalam pikiran, saya hampir nggak sadar saat pesanan roti bakar datang ke meja kami. Gia yang memesannya saat membelikanku air mineral tadi.

‘’Saya nggak bisa tidur, Gi. Saya kayak dicemplungin ke kolam kecemasan,’’

Gia tertawa, ‘’Apa sih? Sok bermajas gitu bahasa kamu,’’. Ada jeda sejenak sebelum Gia melanjutkan ucapannya:

‘’Gini Bil. Kamu pingin nikah muda nggak?,’’ tanyanya.

‘’Saya udah 22. Udah nggak muda lagi,’’

Gia sama sekali nggak terlihat kesal. ‘’Harus banget nikahnya sama Kala?’’ tanyanya, seolah jawaban saya sebelumnya nggak memberikan efek apapun terhadap percakapan ini.

Saya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

‘’Kalau nggak harus sama Kala, aku bisa kenalkan kamu ke temen-temenku. Ini bukan penawaran pertama loh Bil,’’

‘’Teman kamu merokok semua,’’

Gia tetap nggak kesal. Dia tahu saya sekeras batu, maka dia akan selalu jadi air.

‘’Bil, boleh jujur nggak nih?’’

Saya diam, nggak menjawab.

‘’Kalau dibilang cantik, kamu tuh sebenernya biasa aja loh. Ya sekitar 6 dari 10 lah. Padahal temen-temen yang mau aku kenalin ke kamu tuh banyak yang 9 dari 10 loh,’’ ujarnya, sambil lagi-lagi meniupkan kepulan asap rokok yang dihisapnya.

‘’Saya tahu, Gi,’’, ‘’Saya masih yakin Kala bakal ngelamar saya tahun ini,’’ lanjut saya, nggak mempedulikan ejekan halus yang baru saja dilontarkannya.

‘’Kalau yakin, ya jawab aja pertanyaan pakde-budemu itu, ‘’Iya pakde, bude, saya yakin dilamar tahun ini. Sebelum tahun baru, insha Allah udah menikah’’. Beres kan?’’

Saya terdiam. Diamnya saya selalu menjadi kesempatan untuk Gia menjadi dominator.

‘’Bil, Kala itu nggak pengangguran loh. Dia kerja buat kamu. Ya meskipun belum bisa bikin kamu jadi mama sosialita sekarang. Paling enggak, Kala tuh udah usaha,’’

‘’Gini deh Bil. Kala bahkan bisa seberani itu nunjukkin jumlah tabungan yang udah dia kumpulin buat nikahin kamu. Bandingin deh sama aku. Raya udah berapa kali tuh ngode-ngode minta aku nikahin. Saking sebalnya, aku sampai….’’

‘’Ya itu kamunya aja sih Gi yang keterlaluan,’’

‘’Keterlaluan gimana? Raya kayak kamu sih. Nggak mikir besok kalau udah nikah, anaknya nggak cuma butuh makan, tapi juga fasilitas yang menjamin. Biar mereka bisa kuliah sampai S3, nggak kayak kita, lulus S1 aja pakai keringat sendiri,’’ jawab Gia panjang lebar, nadanya mulai terdengar kesal.

‘’Gi, rejeki kan nggak ada yang tahu,?’’

‘’Lah justru itu, kamu mau gambling?’’

Saya terdiam.

‘’Aku nggak nyalahin prinsipmu Bil,’’ nada Gia merendah. Tangannya mengambil sepotong roti bakar dan mulai mengunyahnya.

‘’Bil, aku bakal senang kok kalau Kala beneran ngelamar kamu tahun ini,’’ roti bakar di mulutnya udah habis dan itu artinya Gia bakal menghabiskan menit-menit berikutnya untuk menceramahiku.

‘’Meski nggak kenal Kala, aku yakin dia orang yang baik. Bukan buat kamu aja, tapi buat lingkunganmu juga. Kalau kamu mau nunggu dia, aku yakin penantianmu bakal dibayar sama Kala. Tapi kalau emang kamu keburu buat menjawab pertanyaan pakde budemu yang anggota pro nikah muda itu, ya silahkan. Silahkan mencari sekenanya yang mau kamu ajak nikah cepat. Tapi jangan bodoh…’’

‘’Jangan bodoh. Sekenanya seorang laki-laki, paling enggak dia punya dua hal buat kamu. Rasa sayang dan tanggung jawab,’’ lanjut Gia membuat saya tertegun dan mulai meminum air kemasan yang baru dibelinya.

Ada hening cukup lama setelah Gia memberikan petuah panjang lebar. Gia mulai memainkan ponselnya. Mungkin membalas chat Raya.

Gia sudah putus lama dengan Raya. Raya akhirnya menikahi laki-laki yang berani melamarnya tanpa pacaran. Saya dan Gia datang ke pernikahan mereka berdua. Saya tahu Gia sempat terbesit untuk memeluk Raya dan menumpahkan rasa rindunya. Tapi Gia justru melontarkan candaan ke suami Raya dan membuat mereka terlihat seperti teman lama.

‘’Bil, Raya hamil,’’ ujar Gia dengan nada super santai seolah-olah mengabarkan kalau kucing kesayangannya lagi-lagi bunting oleh jantan yang nggak dikenal.

‘’Nggak sama kamu kan?’’

‘’Nggak, kita pasti main aman kok,’’ ujarnya lantas tertawa. Saya tahu dia nggak bercanda.

Batang terakhir dari pack rokok Gia udah abis. Artinya, udah tiga pack yang dia habiskan hari ini. Sejak tahun lalu, Gia mulai membatasi kebiasaan merokoknya. Iya, tiga pack itu batasannya.

‘’Bil, Kala nggak kayak Raya kok,’’

‘’Ya emang enggak,’’

‘’Nggak kayak aku juga kan Bil?’’

‘’Maksud kamu, ngehamilin istri orang?’’

‘’Aku nggak ngehamilin Raya, Bil,’’ jawabnya setengah serius.

‘’Iya aku tahu maksud kamu. Kala emang orang baik. Saya hanya……. hanya terlalu ‘haus’,’’

Gia tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak roti bakar yang dimakannya. Sedikit banyak, saya emang nggak bercanda. Sedikit banyak, itu juga yang jadi alasan saya punya prinsip berbeda dengan Gia.

‘’Kalau cuma ‘haus’, sama aku juga bisa Bil,’’ jawabnya sambil cengengesan.

Gia, Bahagia Semesta nama panjangnya, sahabatku sejak semester satu di bangku kuliah. Kalau disuruh memilih Kala atau Gia, saya akan memilih Kala. Pun begitu dengan Gia kalau dia masih bersama Raya saat ini. Kami berdua bukan prioritas untuk satu sama lain. Tapi kapanpun salah satu dari kami membutuhkan teman cerita dan lainnya tidak sedang menjalin kasih, maka akan ada secangkir kopi, sebotol air mineral dan sepiring roti bakar untuk berkeluh kesah.

Sisa malam itu kami habiskan sambil membicarakan tentang seorang gubernur yang harus dipenjara karena perkara politik. Perdebatan dengan Gia emang nggak akan mengeluarkan pemenang. Tidak juga solusi. Perdebatan dengan Gia hanya akan mengosongkan cemas untuk hari ini. Iya hari ini saja. Lalu besok, kalau masih cemas, Saya akan menghubungi Gia lagi.

 

 

 

Catatan:

-In case teman-teman saya menemukan tulisan ini, please no hard feeling. Sebab, nama dan latar cerita hanya fiksi.

-Mumbelcore story bakal jadi genre baru di fiksi saya dimana ada banyak percakapan dan minim penjelasan. (Ini juga kalau saya konsisten nulis genre ini. Hehehe)

Mumblecore Story: Marriage