march : this is how we met (part 2)

march : this is how we met (part 1)

afg masih membayangkan, konser tahunan yang akan ia hadiri sebulan lagi. jika saja, jika saja gadis itu belum meninggalkannya, mungkin ia akan datang kesana bersamanya, tepat seperti tahun-tahun sebelumnya. tapi kini, membayangkan kemungkinan ia berpapasan dengan gadis itu disana, membuatnya ingin mengurung dirinya di kamar demi menghindari resiko itu.

tapi teman-temannya tak akan membiarkannya, mengubur diri dalam kesedihan yang berlarut-larut. maka ia menguatkan dinding hatinya untuk datang, setidaknya ia berniat untuk datang. sudah ada daftar orang-orang yang akan ia ajak kesana, teman-temannya tentu saja, atau mungkin beberapa orang yang belum ia kenal sama sekali.

als menatap kearah ponselnya lagi, firasatnya berkata bahwa urusan ini akan panjang dan menyulitkannya. tapi kesopanannya membuatnya membalas pesan yang muncul di ponselnya sekian menit yang lalu. dari kakak kelasnya. jenis pesan yang sama, basa-basi yang selalu basi, yang membuat kesopanannya disalah artikan sebagai harapan palsu oleh kisah-kisahnya yang lalu.

konser. als tak akan pernah menyukai itu. hingar bingar berlebihan yang tak cocok dengan penyakit darah rendahnya. ia menolak tawaran kakak kelasnya itu. dan mendapati dirinya mempunyai percakapan virtual yang panjang setelahnya. laki-laki ini hatinya baru dilukai sembilu. dan als tak berniat sedikitpun untuk mengobati. tidak lagi.

gadis ini, adik kelasnya. seperti belasan orang baru yang ia temui setelah hatinya diluluh lantakkan, ia terpaksa menjadi telinga untuk drama kisah cintanya. afg tak menyadari hal itu, bahwa kepatah-hatiannya membuat ia begitu melankolis hingga menempatkan diri pada posisi paling protagonis dalam skenario kisah cintanya sendiri. hingga pada suatu titik, ia mendapati, bahwa gadis ini tak lagi menjadi sekedar telinganya.

als tak menghadiri konser itu. tapi ia disana, dirumahnya dengan ponsel ditangannya. menunggu laki-laki itu mengabarinya bila ia bertemu dengan mantan gadisnya. sebisa mungkin menyiapkan candaan ringan agar laki-laki itu tak hancur lebur begitu saja di tengah hiruk pikuk konser. tapi sepertinya usahanya gagal, laki-laki itu memang tak hancur lebur, hanya sedikit retak. mungkin sesuatu telah menyembuhkannya sedikit demi sedikit. als sedikit berharap bahwa ‘sesuatu’ itu adalah dirinya.

afg tau jauh dalam hatinya, bayangan gadis yang meninggalkannya masih melukainya sesekali, tapi semakin lama, semakin ia menyadari, bahwa itu tak semenyakitkan dulu, bahwa kini ia bisa menghadapinya dengan lebih baik. afg bahkan berhenti mencari tau kabarnya, sesuatu yang dulu sulit sekali ia lakukan. kini, satu-satunya yang ia tau, gadis itu, adik kelasnya, telah melakukan sesuatu yang besar untuknya.

tidak, als tidak melakukan apapun. als tidak pernah berniat untuk membantu laki-laki itu. ia hanya menjaga kesopanannya. kesopanan yang semakin lama semakin menipis hingga menghapus kesenjangan umur diantara mereka, membuat mereka nampak seperti dua kepala dengan hati serupa. als membenci ini, bagaimana ia harus masuk kedalam situasi yang sama seperti yang ia coba lepaskan beberapa bulan yang lalu. ia tak ingin terlilit rasa bersalah telah membuat seseorang begitu nyaman. namun sesuatu yang tak pernah ia sadari, bahwa ia-lah yang kini sedang merasa begitu nyaman.

gadis itu akan menjadi sahabat baiknya. afg tau gadis itu dikelilingi hal-hal buruk, juga penilaian banyak orang yang mengatainya mudah berganti pasangan. afg bisa melihat itu dari bagaimana gadis itu menanggapinya. tapi ia sama sekali tak ingin melepaskannya, sesuatu didalam gadis itu adalah lautan tanpa dasar yang tak semua orang tau. afg tau ia akan hancur jika menyelaminya terlalu dalam, tapi itu sama sekali tak membuatnya mengurungkan niat.

als menyadari bahwa ia mulai membiarkan laki-laki itu masuk semakin dalam menjelajahi seisi dirinya. dan ia tak berusaha mencegah itu, ia tak pernah mencegah siapapun untuk masuk. tapi tak pernah ada yang mampu memasukinya hingga ke bagian yang ingin ia tontonkan pada jutaan orang seperti sebuah konferensi pers. semuanya hanya melongok di depan pintu, memberi penilaian dan mulai menyebarluaskan isu. namun laki-laki itu dipenuhi rasa penasaran, dan als akan memberinya izin.

apapun, resiko apapun yang menyangkut hatinya, als sudah mempertimbangkannya. tapi selama laki-laki itu mau berjuang dengannya, maka ia akan sepasrah itu memberikan bagian dirinya yang berkali-kali dihancurkan pemilik sebelumnya.

afg tau, kapanpun gadis itu bisa dengan mudah mengulangi episode yang sama seperti yang mantan gadisnya pernah lakukan. afg bertaruh dengan harga mahal atas itu. keyakinannya yang tidak berdasar menempatkannya pada pertaruhan antara hatinya dan apapun yang akan gadis itu lakukan terhadapnya.

maret, 2014

maret itu, maret dengan cerah di tigaperempat senjanya, Tuhan kembali menitipkan hati baru untuk masing-masing diantara mereka, untuk menggantikan kisah-kisah pendahulunya, untuk menyembuhkan satu sama lain.

march : this is how we met (part 2)

march : this is how we met

maret, 2014.

als masih menatap kaku langit diatasnya, seolah matahari sama sekali tak mengganggu penglihatanyannya. ia menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan sekarang. tanpa sadar ia mulai menundukkan kepalanya, tengkuknya sakit. tapi ia masih belum bergeming, sesuatu dihatinya sibuk memilih.

jauh dipuluhan kilometer dari tempat als berdiri, afg sedang dalam perjalanan untuk membetulkan hatinya. suatu perjalanan yang sebenar-benarnya perjalanan. perjalanan sekian kilo yang dulu sering ia lakukan, yang sekarang tiba-tiba menjadi hutan belantara yang menggelayuti kaki-kakinya. ia berusaha meyakinkan dirinya untuk pergi. ia harus pergi, sekarang atau hatinya tak akan pernah sama lagi.

afg mengambil sepeda motor miliknya. pernah ada hari seorang gadis duduk dibelakangnya, memeluknya hangat, membisikkan janji-janji yang kini ia coba gapai tapi hampa. kosong, hati afg kosong. belum pernah dalam sekian tahunnya, hatinya dibuat selelah itu untuk bekerja. ia menjalankan sepeda motornya, tau benar kemana kemudinya akan membawanya pergi.

ponsel ditangan als masih diam, menunggu pemiliknya mempunyai cukup keyakinan untuk menyalakannya. tapi als tak punya keyakinan untuk itu. ia lelah, tapi tak punya cukup kata-kata untuk menyampaikannya pada lelaki itu. batinnya dipenuhi rasa bersalah yang bergemuruh seiring helaian angin yang menerpa ujung hidungnya.

sedetik kemudian, ia membuka kunci ponselnya. menimbang-nimbang sebentar, lalu menguatkan hatinya untuk mengetikkan nama itu. mencari didaftar kontaknya, menemukannya, lalu kata-kata itu terbang dari pikirannya. kata-kata yang ia susun bermenit-menit yang lalu, ia tak punya kekuatan untuk mengetiknya. als mulai menangis, langit diatasnya mulai menggelap, kelabu, dan dingin.

gadis itu duduk dihadapannya, membuatnya mengingat detik-detik yang pernah ia miliki dengan gadis itu. afg tak pernah menyangka, gadis yang dulu merengek tiap kali ia mengacaukan penantiannya, kini menjadi gadis yang menatapnya sedemikian rupa. tatapan yang tidak bisa ia lukiskan, sebab membalasnya saja sudah cukup mengiris-ngiris sisa hatinya.

als mengingat semua perilaku baik lelaki itu. sedetikpun dalam hidupnya, ia tak pernah dikecewakan. kenyataan-kenyataan yang justru membuatnya ingin membenamkan mukanya kedalam sekaleng air cuka. als hanya tak pernah memiliki kemampuan untuk berpura-pura, hatinya dipenuhi rasa egois yang menyulitkannya tiap waktu.

afg mencoba untuk mencari-cari sisa perasaan yang pernah digenggam gadis itu untuknya. namun sejengkal pun tak ia temukan. membuatnya sadar bahwa batas waktunya telah usah. afg hanya tak sanggup mendengarkan hal itu, hatinya sibuk mencari cara untuk sembuh. ia tau itu sia-sia. gadis itu, dan hatinya, telah pergi jauh.

kata-kata itu mulai tersusun rapi di ponselnya. menunggu jempolnya untuk menekan tombol send. tidak bisa tidak sekarang. als menarik nafas sedalam yang masih ia sanggupi, menghembuskan beban berat yang ia bawa di tengkuk dan hatinya. perlahan menekan tombol itu, perlahan ia melepaskan sisi egoisnya pada orang yang salah.

hari itu, hari dengan mendung di langit-langitnya, afg pulang dengan kalah. berusaha menemukan bentuk hatinya yang tak lagi sama. kaki-kakinya cukup lemah untuk menyadari bahwa ia masih seorang manusia.

hari itu, hari dengan rintik hujan yang membasahi hatinya yang dingin, als menutup matanya rapat-rapat. berusaha menyingkirkan rasa bersalahnya, berusaha mencari sisi manusianya yang masih menyala.

march : this is how we met